Social Icons

Selasa, 25 Desember 2012

Choice

Ada quotes yang sering banget kita denger, Life is a Choice. Hidup itu selalu menghadapkan kita dengan berbagai hal yang pada akhirnya mendorong kita untuk mengambil satu keputusan yang dianggap terbaik untuk diri kita. Begitupun dengan yang sekarang ini aku jalani. Tinggal bareng partner meskipun aku dan dia gak tau bisa sampai kapan kayak gini. Mungkin aneh bagi sebagian orang kalau tahu apa yang aku sepakati dengan partner. Kami bersama sekarang, tanpa menuntut satu sama lain untuk terus seperti ini. Kelak saat tiba waktunya bagi kami untuk tidak bersama lagi, kami hanya akan saling melepaskan genggaman itu. Konteksnya di sini berpisah karena salah satu atau kami berdua harus menikah dengan seorang pria, bukan karena perempuan lain. Kami berdua sama-sama tidak bisa saling menjanjikan untuk tidak menikah dengan pria, karena kami tahu itu tidak mungkin. Masalah klise yang dihadapi lesbian indonesia, sayang kami pada orang tua, kultur, tuntutan menjaga nama baik keluarga.

Tindakan naif ku dan partner dengan memperkenalkan partner ke keluarga ku sepertinya bukan ide yang baik dari awal. Tapi apa daya, semua sudah terjadi. Aku sadar, sekarang ini ada kecemasan dalam hati kedua orang tua ku dengan sikap anak bontotnya ini. Tidak pernah membawa laki-laki untuk diperkenalkan sebagai pacar, atau bahkan sesekali bercerita tentang teman cowok yang unyuk sekalipun, yang ada malah akbrab dengan teman perempuan tomboy yang care dan siap jadi pahlawan dimana pun anaknya berada.

Meskipun tidak secara gamblang, jelas bapak ku menaruh curiga yang begitu besar. Bapak juga sesekali menunjukkan sikapnya yang menolak kehadiran Desta. Sampai saat ini aku dan partner masih kekeuh untuk terus jalani ini sampai tiba waktunya kelak kami memang harus berpisah. Dan tentunya itu akan meninggalkan lubang besar dalam hati dan juga hidup kami. Keinginan kami, kami bisa terus bersama selama kami masih saling sayang. Saling support karir masing-masing. Kemandirian finansial harus kami raih kelak meskipun kami sudah tak saling bersama. Itulah yang menjadi pilihan ku dan desta. Sama halnya seperti orang yang mengetahui kapan hari terakhirnya, kami berharap kami selalu bersama dan saling sayang tiap detik sebelum kami saling kehilangan.

Warning 2

Eh,kalau merujuk dari judulnya,harusnya ada warning 1 ya? Ah,tapi ini bukan cerita bersambung. Sengaja ku sebut begitu karena memang ini kedua kalinya aku kena sindir bapak ku.
Jadi begini ceritanya,baru-baru ini ada pasangan artis yang beda usianya hampir 15 taon yang baru aja putus gara-gara si cewek merasa direndahkan ama celotehan temen-temen cowoknya yang juga partner kerjanya. Pasti udah bisa nebak dong ya?nah, bapak ku tuh gak tau darimana awalnya tapi sewot banget sama pola bertemen 2 cowok tadi(krn salah 1nya agak gemulai). Mungkin bapak ku termasuk orang yang homophobia atau apa,tapi sangat tidak menyukai cowok kayak gitu.

"Jangan-jangan nih banci suka sama temennya sendiri makanya ulahnya norak kayak gitu," kata bapak ku sewot. Jediaaar, kayak ada petir dadakan gitu aku denger bapak ku bilang gitu. No comment dari aku. "Makanya, milih temen yang bener, gak ada yang namanya temen tulus karena setiap orang punya kepentingan, kecuali sayangnya orang tua sama anaknya," lanjut beliau.

Ini jelas di tujukan buat aku dan partner pastinya. Bukan apa-apa, kata-katanya kena banget. Rasanya kayak terjun payung, jantung rasanya mau copot, pikiran mendadak blank, kalau sempet liat kaca pastinya waktu itu mukaku pucat pasi. Check Mate!

Kamis, 06 Desember 2012

My pudding

Ini nih puding untuk desta yang suka banget sama puding. Cekidot.

Puding ini terdiri dari 3 rasa, vanila,coklat,dan orange. kalo dilihat sih komposisi warna nya gak pas. Mustinya yang coklat ada di paling bawah,di atasnya vanila,dan yang paling atas orange.

Kejadian nya lucu sih. Waktu bikin pertama kali,yang kepikiran cuma rasa coklat dan vanila aja. Tapi,tiba-tiba ingat punya jeruk,secepat kilat deh aku dan desta meres jeruk nya dan kita bikin 1 rasa puding lagi buat mengimbangi rasa manis yang dominan. Jadilah,puding 3 rasa dengan komposisi warna yang kurang cantik ini. Tapi rasanya,ehm,enak banget deh.

Kalo ada yang mau pesen,boleh juga kok.hahaha. Lumayan buat nambah-nambah rejeki.

Senin, 05 November 2012

My birthday

Tiap usia yang telah diberikan Tuhan adalah anugerah dan nikmat yang d berikan Nya pada kita. Hari ini,tepat 30menit di penghujung 5 november 2012,aku akan melewati moment bersejarah ku. Di tanggal ini,26 tahun yang lalu,aku di lahirkan dari rahim seorang ibu.

Beberapa hal telah membuat ku sejenak melupakan dan menutup mata atas semua nikmat ini. Sungguh aku hanya hamba yang tidak pandai bersyukur. aku melupakan nikmatnya,aku egois,hanya berpikir tentang semua hal yang belum tentu akan seburuk yang aku bayangkan.

Tuhan,buatlah aku mampu berjalan dalam gelap sekalipun dengan tetap memegang keimanan ku pada Mu.

Tuhan,terima kasih atas semua hal yang telah Kau berikan. Orang tua yang sehat dan sayang pada ku,kakak yang selalu menjaga ku, dan kekasih yang selalu menyayangi ku. Dan semua nikmat lain yang begitu besar yang sempat aku lupakan beberapa saat yang lalu.

Tuhan,jadi kan aku termasuk salah satu hamba Mu yang pandai bersyukur,pandai melihat dan merasakan kasih Mu.

Kamis, 01 November 2012

Si Eun chan


Kami memanggilnya Eun chan.Kalau ada yang pernah melihat drama korea Coffee Princes,pasti tau dengan jelas bagaimana penampilannya. Andro look bgd yang lebih cenderung butch kale ya.
Dia datang begitu saja,beberapa minggu yang lalu. Sempat membuatku kaget karena aku pikir ada cowok yang masuk ke kamar mandi kos. Tapi setelah kami tau dia ternyata perempuan,kami seperti menemukan "teman baru". Dengan kepo nya aku dan partner menyelidik penampilan nya yang unyuk banget. Sejak hari itu dia resmi bergabung menjadi penghuni kos baru.

Aku ingat waktu dia memberitahukan namanya. Terkesan sangat ragu,atau tidak percaya diri,"mayang", ucapnya. Penampilan maskulin nya itu bila di sandingkan dengan namanya  terdengar kurang matching. Tapi dia sudah mencuri perhatian kami. Partner penasaran dengan motornya, maksudnya, dengan tubuh mungilnya itu, dia bisa mengendarai motor super macho impian partner. Sedangkan aku lebih cenderung super jaim saat berbicara dengan nya. Iya dong, scara aku lebih senior. Masa iya di depannya memperlihatkan sifat-sifat manja ku. hehehe.

Namun kami berdua belum sempat mengenalnya lebih jauh. Dia, seorang perempuan mungil, hidup berdua saja dengan ibunya, harus pergi meninggalkan kos karena alasan tertentu. Aku ingat terakhir kali melihatnya tersenyum kikuk beberapa menit sebelum aku berangkat kerja hari itu. Kesalahan ku tidak menyapanya saat itu. Aku tidak tahu kalau itu senyum manis terakhirnya karena malam harinya kami sudah mendapati kabar dia pindah kos. Andai aku tak terburu-buru waktu itu. Aku yakin dia berniat untuk pamit. Tapi aku sama sekali tak menangkap sinyal itu. Ough, aku sama partner jadi lumayan kehilangan. Aku pikir kita bakal punya adek atau apalah itu yang bisa saling share sesuatu yang sama.


Hopefully dia bakal terus survive di mana pun dia sekarang, tetep jagain ibunya dan pastinya akan dipertemukan dengan cewek manis yang bisa dampingi dia kelak. Makasih Eun chan udah mampir ke kosan kita. Berkesan banget meskipun cuma sebentar.

November Wish

Ku buka mata ku perlahan dan kurasakan pening yang begitu hebat. Kepala ku terasa begitu berat seperti memikul beban. Mataku menyisir seisi ruangan kamar dan kudapati sosok perempuan yang masih begitu nyenyak tidurnya. Dia tampak kelelahan. Tak terasa tersungging sebuah senyum di bibir ku, mengamati kelelahannya karena ulah kami tadi malam. Kami habiskan malam dengan sentuhan dan genggaman erat dalam tubuh yang saling menghangatkan. Penghujung bulan oktober yang begitu hangat. 

Selamat datang bulan november, bulan dimana 26 tahun yang lalu aku dilahirkan dari rahim seorang ibu yang begitu penyayang. Sedikit tidak percaya aku dalam perjalan melewati batas usia seperempat abad. Yang artinya, kedewasaan dalam berpikir, perilaku dan karir, seharusnya sudah harus didapat. Tapi aku masih dalam fase berusaha mendapatkannya. It is okay. Never mind. Yang terpenting tidak berhenti berusaha bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk perempuan yang masih juga tertidur nyenyak itu.

Begitu banyak spirit yang menyelimuti, aku harap akan dapat mewujudkan beberapa wish di bulan november ini. Yang pasti, new job. I have to get a new job, guys. My dream job pastinya. 

Semangat terus ya,,kita kejar semua yang belum tercapai bulan oktober kemaren!

Rabu, 31 Oktober 2012

Pertemanan

Tau apa rasanya ada seseorang yang mengirimi mu email yang isinya meminta ijin untuk bisa menambahkan mu ke dalam salah satu kontak japri nya? Beberapa hari lalu aku menerima email itu. Satu hal yang terbersit saat itu, kita semua butuh teman, terutama teman yang memiliki kesamaan perasaan, yaitu perempuan yang mencintai perempuan. Kebutuhan untuk bersosialisasi, berbagi pengalaman dan saling mengerti saat kita bercerita sesuatu yang tidak mungkin di bicarakan dengan teman lain yang tidak memiliki kesamaan itu.

Aku sendiri, di kehidupan riil, dulu pernah memiliki beberapa teman yang sama. Berawal dari partner, teman partner, temannya teman partner. Tapi satu per satu mulai menemukan ketidakcocokan. Ada yang memiliki misi yang berbeda dengan menggagas LSM yang menuntut diterimanya pernikahan sesama jenis. It means, anggotanya adalah para lesbian yang udah coming out. Ada yang lama menghilang dan mengganti nomer telepon pribadinya, hingga akhirnya lose contact. Aku sendiri terkadang merasa bersalah karena sempat beberapa kali bersikap terlalu kekanak-kanakan dengan membenci mereka saat mereka melakukan satu saja kesalahan. Aku menarik diri. Aku pikir selama ini juga aku tidak apa-apa berteman dengan teman yang tidak memiliki kesamaan perasaan. Dengan tetap menjaga sikap dan stay in the closet ku. Tapi saat aku berpikir lagi, mau tidak mau, terkadang kita juga butuh teman yang 'sama' itu.

Selektif, boleh jadi tetap jadi prioritas, tapi bukan menutup mata bahwa terkadang kita pun melakukan kesalahan dan berharap orang lain memafkan kita.

Minggu, 28 Oktober 2012

1 fase lain

Tiba-tiba saja waktu terasa begitu panjang. 24 jam sehari itu terasa begitu menyiksa. Long weekend,seperti biasa harus membuat kami terpisah jarak. Masing-masing dari kami harus pulang ke rumah. Melepas rindu pada keluarga. Tak mendapati sms nya tiap 1 jam rasanya begitu sedih. Mellow banget deh pokoknya. It is like you lose half of yours.
Tapi oh my,itu masa-masa beberapa tahun lalu. Sekarang?
Semuanya tampak lebih natural,dewasa,hm,ataukah mulai menghilang?  Ups, I don't think that.Perubahan seperti ini,mungkin hanya satu dari sekian fase dari sebuah kebersamaan. Aku tidak tahu tepatnya apa tapi yang pasti aku hanya ingin melewati fase ini dengan baik.

Minggu, 21 Oktober 2012

Mana yang lebih besar

Sekembalinya kita dari fase penuh isak tangis dan rindu yang begitu mengusik,lantas apa?
Apa yang kamu tawarkan padaku untuk meyakinkan ku? Aku tidak (lagi) hanya butuh senyum itu, ciuman mesra itu,ataupun belaian lembut itu. Kita bukan remaja 20 tahunan yang sedang di mabuk cinta. Aku,butuh komitmen. Aku butuh perbaikan.
Mana yang lebih besar,sifat malas mu atau rasa pengertian mu pada ku. Aku sempat berpikir apa mungkin ketidakpedulian mu ini sebenarnya adalah kebosanan mu?
Bosan pada ku.pada tingkah laku ku?
yang tak mampu kau ucapkan? Lantas kenapa tak bisa benar-benar membuang ku jauh-jauh dari hidup mu?

Jumat, 19 Oktober 2012

We Still In Love

Awal nya aku pikir semudah membalik telapak tangan. Aku putuskan lalu segera pergi dari pandangan nya. Tapi ternyata aku salah. Hanya selang 1 hari, perasaan rindu kembali mengusik. Kejadian buruk yang menimpa ibu ku seketika membuatku lupa bahwa aku dan dia telah sama2 sepakat untuk berpisah.

Dan saat aku bersedia kembali,rasanya seperti aku bisa berjalan di atas awan. Beban apapun seolah lenyap tersapu senyum yang terukir di wajah nya. Aku tak mampu membendung nya. Kami larut dalam bahagia. Maaf,telah membuat mu menitikkan air mata itu. Aku masih sayang kamu. We still in love.

(Saat ini aku sedang belajar memahami bahwa tidak ada yang kebetulan ataupun sia-sia. semua nya terjadi atas kehendak Nya dan atas ijin Nya)

Kamis, 18 Oktober 2012

Time 2 break

oktober 2006

seingat ku,di bulan yang sama 6 tahun lalu,aku mulai dekat dengan desta.persis setelah libur hari raya. Sms yang menjadi sarana utama kami waktu itu. Hampir setiap hari aku menunggu dering sms tone dari Nokia 3315 ku. Kalo sekarang mungkin hp itu sudah jadi hp langka.
Kami sering bercerita panjang kali lebar sampai suatu ketika dia coming out pada ku. Sungguh sebuah kepercayaan luar biasa. Waktu itu,entah apa yang di pikirkan nya. Maksud ku apa dia merasa begitu nyaman dan aman menceritakan semuanya padaku?

oktober 2012

Sekarang,di pagi hari yang buruk karena mungkin tidur ku yang sangat tidak nyaman ditambah tekanan darah yang rendah membuat pagi ku seperti mimpi buruk. Aku tiba-tiba serasa mengambil langkah seribu untuk mengakhiri semuanya. Semua yang sudah dibangun meski tak pernah berdiri sempurna.

Moment2 seperti ini sudah sering kami alami. Dan masih dengan format yang sama. Aku lah algojo yang menghendaki keputusan pahit seperti sekarang. Kenapa hal seperti ini selalu tidak mudah untuk di jalani meskipun sudah terjadi berulang kali. Sakitnya sama. Ketakutan nya pun sama.

Kami tak saling bicara. Lebih tepatnya dia. Aku pun seketika menjadi salah tingkah. Bagaimanapun, aku telah menyakiti nya. Aku pun juga sesedih kamu,bahkan mungkin lebih. Aku pun gamang bagaimana kehidupan ku kelak apalagi karir ku tak sebagus diri mu. Cukup tenang meninggalkan mu dalam kondisi mu yang sudah bisa survive seperti sekarang. Tak perlulah mengucap maaf. Tapi justru terima kasih telah mengisi kekosongan dalam hidup ku. Bersedia menerima ku apa adanya. Tapi saat semua tak lagi seimbang,mungkin ini jalan terbaik.

Rabu, 17 Oktober 2012

Bikin Gemes

Ini nih, yang bikin gemes,,,butch keren dari thailand yang dikenal lewat film Yes or No


Kamis, 11 Oktober 2012

Tergoda

Kalau di tanya apakah hubungan yang terjalin sudah lama artinya tanpa pertengkaran,atau kisah kasih lain di belakang pasangan, hm,buat aku pribadi tidak benar. Aku tidak percaya hubungan yang begitu lama terjalin dilalui dengan begitu mulus tanpa hambatan ataupun selisih paham. Bahkan tak jarang kami satu sama lain mengaku pernah tergoda oleh sosok lain selain pasangan masing-masing.

Gara-gara Lagu

Sore yang nyaman setelah beberapa hari ini panasnya begitu menyengat. Pendingin ruangan pun tak mampu membuat kami merasa nyaman di dalam ruangan kantor. Di sela-sela kesibukan, aku iseng menyapa teman di dunia maya. Vella nick name nya. Dia ibu 2 orang jagoan kecil, dan dia juga lesbian tapi lebih memilih menjalani hidup yang seharusnya. Kami cukup akrab dan lumayan seru sih tiap mengobrol dengan nya.

Sore ini aku iseng aja ngirim dia lagu yang beberapa hari ini lumayan bikin aku nyanyi-nyanyi gitu. Judulnya Harus terpisah-by Cakra khan. Sambil menunggu tempat sholat agak sepi, aku mulai mengirimi nya lagu. Betapa kagetnya aku tiba-tiba dia kepo karena baca judulnya. Rentetan pertanyaan pun dia tanyakan, apa aku akan pisah dari partner, ato aku lagi galau gara-gara partner, dan buanyak laennya. Emang dasar emak-emak, di apain juga kebiasaan kepo nya gak bisa ilang.

Tapi pertanyaan nya cukup membuat aku berpikir lagi. Apa iya sebenernya aku suka lagu itu karena lagunya kena banget sama perasaan aku sekarang?

Au ah gelap. Hari ini aku cuma mau fokus for exam. Huft, gara-gara lagu bisa bikin emak-emak kepo ternyata.

Rabu, 10 Oktober 2012

Penggilaan dini

Seminggu terakhir ini,tepatnya sejak percakapan dengan nya,aku bagaikan di hempas ke bumi dari ketinggian puncak gunung arjuna. Aku kehilangan konsentrasi,aku lupa bagaimana mengawali tidur,aku bahkan tidak sanggup berangkat ke kantor,dan alhasil,aku bolos.
Parah. Aku sudah dibuatnya sedikit gila. Oke,ini tidak boleh bertahan lama. Tapi tetap saja,setiap kali ku lihat tanda bulat itu masih berwarna putih,ada rasa kecewa yang terbersit. Aku seolah haus penjelasan yang aku sendiri tak tahu untuk apa. Dia memaksa ku untuk berpikir apa yang pantas dan tidak pantas. Mana yang hak dan bukan hak. Why,,,Why,,,Why. Cuma itu yang terus muncul di kepala ku

Minggu, 07 Oktober 2012

Exam

Mau dan harus fokus di sini. Aaargh,tapi kenapa pikiran malah kalut gini?



Need refresh

Udara kamar yang pengap semakin lama semakin membuat ku tak nyaman. Udara panas yang mencapai 30 derajat celcius saat menjelang malam membuat ku serasa sedang sauna. Aku mulai melihat seisi kamar dan mulai menyelidik,apakah mungkin isi kamar ini sudah over load hingga tak lagi mampu menyisakan ruang untuk udara segar? Dalam kondisi seperti ini pengen banget rasanya menjadi tokoh jinny oh jinny yang di perankan oleh Diana Pungky. Bisa memiliki ukuran tubuh yang mungil,terus masuk kulkas dan tidur di dalam nya.

Kondisi ini tak hanya membuat ku gerah tapi juga mengganggu waktu tidur ku. Ku ingat dengan jelas akhir-akhir ini aku hanya tidur malam 4-5 jam. Itu pun harus bangun setiap 1 atau 2 jam untuk membasahi tenggorokan. Belum lagi pikiran kalut menjelang ujian,di tambah pikiran aneh yang beberapa hari ini menjangkiti ku.

Rencana liburan akhir bulan ini yang terpaksa harus di batalkan,sedikit banyak membuat kecewa. Padahal,di saat-saat seperti ini  I need refreshing so much.

Jumat, 05 Oktober 2012

Tanpa nama

Melihat kembali drama serie korea berjudul Coffee Prince memaksa ku mengingat kembali perasaan dan kenangan itu. Salut atas akting Gong Yoo yang berperan sebagai Han Kyul. Seorang pria dewasa yang merasa dunianya jungkir balik saat mendapati dirinya mencintai seorang pria. Aktingnya mampu membuat aku  terdiam dan hampir menitikkan air mata. Kekalutan yang coba dia tampakkan dalam aktingnya itu sangat merepresentasikan mungkin hampir semua orang yang merasakan hal yang sama, yaitu ketika mendapati diri mencintai sesama jenis.

Kala itu usia ku baru 20 tahun, tepat di perayaan ulang tahun ku, make a wish saat itu adalah aku ingin benar-benar diberikan keyakinan atas apa yang aku rasakan. Aku jatuh cinta padanya, perempuan sok eksis dan banyak bicara, lebih tepatnya humble. Perempuan yang saat semester 1 dan 2 membuatku begitu muak bahkan saat mendengarnya bicara. Namun entah mengapa saat semester 3 mata dan pikiran ku seolah tidak lagi sinkron dengan otak ku. Mata ini selalu ingin melihat apa yang dilakukannya, melihatnya tertawa lepas layaknya anak kecil yang tidak pernah memiliki beban. Pikiran ini terus memikirkan tentang cerita nya tentang banyak hal. Kedatangannya selalu aku nanti dan membuat jam tidurku tak lagi teratur. SMS nya pun selalu membuat aku cukup untuk menutup hari itu dengan sebuah rasa syukur bahwa aku merasakan bahagia.

Seorang teman menuliskan sebuah kalimat dalam sebuah milis,jika kamu disuruh memilih antara berjalan dengan ketidaktahuan tapi membahagiakanmu dan melangkah dengan pengetahuan tapi mencerahkan serta memberatkanmu, mana yang kamu pilih? Kalimat itu seolah membuatku meraba kembali keputusan yang aku ambil atas hidupku yang sekarang ini. Aku tahu dengan jelas konsekuensinya saat itu. Dalam beberapa hal, secara agama, selalu disebutkan manusia akan selalu diberikan cobaan. Dan hal 'seperti ini', dikatakan sebagai cobaan yang harus kita lalui. Menghindari dan menjauhinya lebih tepatnya. Namun, semakin aku menolak dan berusaha melupakannya, aku semakin tersiksa rindu. Apa yang manusia tahu tentang cobaan dan anugerah? Tuhan memang menciptakan nalar untuk kita berpikir tapi Dia juga menyandingkannya dengan hati. Aku ingat saat itu Desta berkata, "cukup dengarkan hati kecilmu, dan aku akan ikhlas menerima apapun keputusan mu," Aku ingat aku pernah berjanji, dulu, jauh sebelum bertemu dengan Desta, bahwa aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bahagia dengan orang yang aku cintai.

Logika ku, yang menuntunku dengan semua pengetahuan yang mencerahkan memang benar pada akhirnya membuat semuanya terasa lebih berat. Aku memilih berjalan dalam pengetahuan yang memang sengaja aku simpan dan lebih memilih mendengarkan kata hati. Karena perasaan tanpa nama itu tidak akan pernah bisa berjalan seiring sejalan dengan pengetahuan apapun di muka bumi ini.

Sosok ayah-alternatif memilih pasangan?

Banyak teman atau umumnya perempuan ketika di tanya, "seperti apa sosok lelaki yang kamu inginkan untuk menjadi pasanganmu kelak?" serta merta mereka menjawab, yang dewasa, seperti ayah ku. Yang bertanggung jawab seperti ayahku. bla bla bla. Tapi waktu partner tanya ke aku, "Kalo kamu?" Dengan spontan dan tanpa perasaan bersalah aku menjawab, " Yang sifat dan karakternya jauh berbeda dengan Bapak ku."

Aku ini sering kali, bahkan sering aku ungkapkan ke partner, kalau aku ngerasa 'bercermin' saat aku mulai menghadapi bapak ku. Dan semua itu justru membuat aku serasa malas dan justru chemistry nya gak ada sama sekali. Saat seorang laki-laki berani meminang gadis, aku pikir hal yang wajar dan harus kalau dia menjadi lebih bertanggung jawab dan dewasa. Jadi, tidak harus seperti ayah kita saat kita mendambakan sosok lelaki yang ingin di jadikan pasangan hidup.

Kedekatan terlebih karena tinggal serumah mungkin mempengaruhi pola pikir seseorang. Maka itu, aku selalu merasa berjalan di jalan yang benar saat aku memutuskan tinggal terpisah dari orang tua ku. Pemikiran ku jadi lebih terbuka, mandiri, memberanikan diri mengambil segala keputusan untuk karir dan semua yang aku lakukan. Meskipun pandangan miring dan tanggapan negatif ala-ala mencurigai tak jarang mampir ke telinga ku.

Tapi apa mau dikata, aku sudah sangat mengerti apa yang aku inginkan. Sosok seperti ayah, bukan sosok yang aku idamkan untuk menjadi pasangan ku. Maksud aku, di luar tanggung jawab dan kedewasaan seperti yang aku singgung tadi. Dan aku mendapatkan nya. Seorang partner yang sangat aku sayang dengan semua kebaikan dan keburukannya. Dengan semua hal yang telah dan masih membuat aku jatuh cinta.

Kamis, 04 Oktober 2012

Refleksi 2

"Bisakah anda deskripsikan kelebihan dan kekurangan diri anda?"
Kalian pasti sering deh mendapat pertanyaan serupa saat melakukan interview sebuah pekerjaan. Dulu, waktu masih unyuk-unyuk alias masih dodol, aku pikir kenapa musti ada sesi pertanyaan itu? kenapa bukan seputar background pendidikan atau keahlian ku saja? Rasanya seperti tidak terlalu penting. Namun aku sungguh keliru besar. Kalau di nilai mungkin aku langsung dapat angka Nol (0) besar. Nah, kan aku udah bilang, itu waktu aku masih unyuk.

Mengenali diri sendiri itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dalam pikiran kita, hey kan aku yang punya jiwa dan raga ini jadi ya aku pasti tahu lah karakter ku seperti apa. Ngapain harus ada sesi mengenal diri(lagi)? Dalam kenyataannya, banyak orang yang marah atau tidak bisa menerima saat orang lain mengatakan dengan sangat gamblang kalau dirinya misalnya, adalah orang yang pelit atau malas, atau apapun yang terkesan negatif. Respon marah yang meledak-ledak saat mendapati kritik dari orang lain tentang dirinya tidak bisa diartikan bahwa dia telah mengenal dirinya dengan begitu baik hingga dia berhak merasa tidak terima dengan kritik orang lain. Bagaimana jika ternyata kita sebenarnya sedang tidak mau menerima kenyataan bahwa memang kita memiliki karakter negatif seperti yang di bilang oleh teman kita.

Untuk mengenali diri kita sendiri, aku yakin setiap orang punya cara tersendiri. Mulai dari A-Z dan aku yakin, tak sedikit buku yang membahas tentang itu. Aku sendiri merasakan bahwa mengenali diri sendiri itu tidak bisa dalam waktu seharian penuh kita merenung. Berbagai masalah yang datang silih berganti, kegiatan berinteraksi ku dengan orang lain, dan berbagai aktivitas yang aku kerjakan dan melihat respon atau akibat dari apa yang aku kerjakan sedikit demi sedikit membantuku dalam mengenali sifat dan karakterku.

Seperti dalam tulisan ku dulu Refleksi, iya memang aku mengakui beberapa karakter ku yang bisa dibilang minus. Dan aku rasa perlu kita memberanikan diri untuk tidak hanya tahu dan mengakui, menuliskannya justru membuat kita menjadi lebih berdamai dan memikirkan cara bagaimana agar karakter buruk itu tidak menjadi dominan dalam diri kita. Itulah ujung dari sebuah refleksi. Bukan sekedar tahu dan mengakui tapi tindakan apa yang harus kita lakukan setelahnya. Karena penting untuk kita mengubah apa yang buruk. Tujuannya bukan untuk menarik simpati orang lain, tapi alangkah bahagianya kita saat kita mendapati diri kita bukan sosok atau pribadi yang memiliki karakter buruk yang lebih dominan. Dan semua itu hanya kita yang bisa mengusahakannya.


Perawan tua atau Lesbian?

Sebenarnya menuliskan judul itu aku seperti memberanikan diri melewati jalan sempit yang di sebelahnya ada jurang yang sangat curam. 2 frase yang sama sekali tidak ingin aku tulis, tapi aku butuh menuangkannya di sini. Berapa usia mu saat ini? Well, kalau kamu perempuan dengan usia melewati seperempat abad dan tak kunjung memiliki pacar (baca: cowok),warning akan ada stempel yang siap melekat di dahi mu. Perawan Tua. Mengerikan menulisnya. Dari kecil, saya yakin hampir setiap perempuan yang lahir ke dunia, telah terdoktrin untuk tidak menjadi bagian dari label/cap itu, termasuk saya. Kata-kata itu seperti menghantui hampir sebagian besar wanita di dunia. Doktrin yang sebenarnya dari segi psikologis sangat menyiksa, dan semakin menggerogoti kepercayaan diri yang sudah dibangun setinggi gedung pentagon. Label itu menurut saya pribadi juga sangat menyudutkan bagi kaum perempuan. Ironisnya, bahkan perempuan pun terkadang terlampau takut dan justru membenarkan dan mengokohkan itu sebagai hal yang PALING BENAR. Secara tidak langsung, perempuan disini hanya di anggap sebagai obyek yang bisa "dinilai" saja, bukan di hormati dengan segala keinginannya."Terlalu" (kalo kata bang haji). Bahkan saat ada teman perempuan yang bilang "aku udah laku" untuk mengekspresikan kebahagiaannya saat memiliki pacar, aku hanya berpikir, "hah, ternyata kamu menganggap dirimu seonggok barang yang bisa dibeli? dengan apa, tiket nonton atau bakso pinggir kantor?". Ungkapan yang mungkin untuk di pakai bercanda tapi buat aku tidak cukup pantas mewakili sosok perempuan yang punya banyak kelebihan. Itu juga kalau perempuan tahu apa yang dia miliki.

Saat ini saya berada dalam kondisi krisis itu. Krisis kepercayaan diri akibat adanya 2 frase itu. Ijinkan saya untuk tidak terus menyebutnya berkali-kali. Kepercayaan diri bagi setiap manusia bukan sesuatu yang bisa dibangun secepat kedipan mata saat rasa itu mulai hilang. Setangguh apapun batu besar kalau di hantam-bahkan hanya dengan kayu sebesar lengan anak kecil-pun akan menunjukkan celahnya alias retak. Saya pun larut dalam label dan cap yang mulai di arahkan pada saya hingga berkali-kali tanpa partner sadari, akhir-akhir ini aku sering bertanya padanya "apa aku terlihat tua?" Dia mengatakan "Enggak kok. Kamu terlihat sesuai usia kamu, gak lebih tua. Bahkan terkadang terlihat imut seperti masih anak kuliahan" Jawaban itu seperti oase di padang pasirnya krisis kepercayaan diri ku.

Bagaimana dengan lesbian? Masyarakat secara umum tidak serta merta menyandingkan perempuan yang tidak kunjung memiliki pasangan lawan jenis dimungkinkan adalah seorang lesbian. Apalagi kalau penampilan perempuan itu sangat feminin, cantik, ramah, dan menarik. Berbeda dengan pria dewasa yang berpenampilan menarik tapi tak kunjung berpacaran, serta merta masyarakat berpikir bahwa lelaki itu mungkin saja Gay. Hal ini dimungkinkan fenomena Gay dengan segala pandangan buruk nya telah bersanding secara nyata dalam kehidupan masyarakat indonesia saat ini. Teman-teman gay bisa di katakan lebih open dibandingkan dengan lesbian. Bahkan mau tidak mau, bisa dikatakan penerimaan terhadap kaum gay saat ini sudah bukan hal yang terlampau sulit. Media dalam hal ini berperan besar. Munculnya film yang mengangkat isu LGBT seperti Arisan, garapan Nia Dinata cukup mampu diterima dan membuka wawasan masyarakat akan kehadiran dan keberadaan teman-teman gay di antara kehidupan mereka.

Sementara lesbian, saya tidak cukup tahu bagaimana pandangan masyarakat luas. Tapi dilingkungan saya saat ini, lebian itu seolah lebih kejam dan hina dari seorang yang hamil di luar nikah. Bahkan kalau disandingkan secara bersamaan, lebih baik hamil di luar nikah dari pada lesbian. Hm, lebih mengerikan dan lebih tidak bersahabat. Aku berpikir, kalau seperti itu konsekuensinya, aku lebih baik di beri label yang pertama saja. Mencoba menerima dengan label itu. Hm, berusaha berdamai dengan label 'pemberian' dari lingkungan ku kelak (yang pastinya akan lebih hebat cobaannya). Why not? Aku ubah saja dari label pemberian itu dengan sebutan HIGH QUALITY JOMBLO yang sempat ngetrend di tahun 2007 an lewat program Katakan Cinta. Bukan hanya sebutan, tapi bagaimana predikat itu layak melekat pada diri saya itu yang lebih penting.
Gue Jomblo (baca: gak punya pacar cowok), emang iya. Masalah buat loe? Semangat ladies.....



Cheeeeeeeeeeeeers .......................................................

Kamis, 20 September 2012

Alergi Desta

Eits, pas baca judulnya jangan dikira si Desta mantan personel band club 80's yach. Ini Desta si endut yang makin lama makin buat aku ilfiil karena tiap hari bangun siang banget. Atau lebih sering keliatan ngupil daripada mijitin aku yang suka pegel gara-gara nyiapin semua kebutuhannya. Kejadiannya malah terkesan parah dan dramatis waktu dia mulai telpon atau Whatsapp aku. Gak tau kenapa, denger suaranya atau baca WA nya langsung deh cuaca jadi mendung banget trus bikin galau akut.

Rabu, 19 September 2012

Habis gelap (belum) terbitlah terang

Slogan yang lekat sekali dengan sosok Ibu RA Kartini itu memang telah mengubah penerimaan masyarakat terhadap peran wanita yang lebih baik. Terbukti, saat ini tak ada lagi larangan mengenyam pendidikan bagi kaum perempuan. Tidak ada lagi larangan untuk bekerja sederajat dengan para laki-laki. Tidak ada lagi comooh atau cibiran atas pendapat para wanita. Bahkan di Indonesia sendiri, telah mengukir sejarah dengan di angkatnya presiden wanita untuk pertama kalinya yaitu Ibu Megawati Soekarno Putri. Meskipun sosoknya masih belum mampu memberikan perubahan besar, namun perlu di akui, bahwa keyakinan dan keberaniannya untuk terus maju sebagai tokoh politik dan menjadi orang nomor 1 di negeri ini menjadi hal yang patut di acungi jempol. Berusaha menyejajarkan hak-hak perempuan dan laki-laki di mata hukum, sosial, maupun ekonomi.

Tapi apakah semuanya telah berubah sedemikian rupa? Nampaknya belum sepenuhnya. Tadi malam aku terlibat obrolan singkat dengan seorang teman saat berada di kelas perpajakan. "Jadi, kamu kos? Kan jarak antara rumah kamu dengan kos cuma 1 jam, ngapain musti kos? apa gak rancu kamu kos cuma karena alasan pekerjaan?" tanya nya dengan mengernyitkan dahi sedemikian rupa. Entah apa yang ada dalam pikirannya. I mean, why you look so surprised like that? Am I wrong? Am I a criminal do that? Spontan aku menyambar dengan tetap mengatur nada bicara "Aku kan sambil ngajar privat, jadi gak mungkin aku bolak-balik". 

And you know what I feel after said that? Sucks. Hanya karena waktu itu di kelas ada pembahasan soal ujian, aku tak mau menyinggungnya panjang lebar. Sesaat aku merasa begitu menyebalkan. Mengapa responnya seperti itu saat mengetahui aku tidak tinggal bersama keluarga ku dan memilih mandiri, tinggal terpisah, meskipun jarak antara rumah ke kos bisa kutempuh sejam, dan jarak kos ke tempat kerja sekitar setengah jam. 

Saat dalam perjalanan pulang, aku berpikir, mungkin istilah habis gelap terbitlah terang itu masih belum sepenuhnya dapat di aplikasi untuk semua hal. Salah satunya seorang perempuan muda yang memilih tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. Hal itu seolah di anggap negatif. Ingin bebas dari orang tua, melakukan banyak hal tanpa dilarang dan sebagainya. Memang benar. Awal aku memutuskan untuk tinggal terpisah adalah aku tipe orang yang tidak betah capek. Harus Bolak-balik berangkat dan pulang kuliah menerobos kemacetan separah itu, buat aku hanya buang-buang energi dan waktu. Jadi, aku putuskan kos. Dan itu berlanjut saat aku bekerja. Enough berpikir kos itu tempatnya hura-hura. NO. Mungkin ada beberapa yang seperti itu, dan imbasnya adalah kita yang tidak melakukannya ini. Tapi apapun itu, setiap orang yang telah memutuskan pilihan hidupnya, apapun itu, baik buruknya adalah tanggung jawab dia. Dan sampai sekarang pun, banyak hal yang selalu aku tuntut dari diriku untuk membuktikan bahwa tak ada yang salah dengan keputusan ku untuk hidup mandiri. Dan aku bertanggung jawab sepenuhnya atas keputusan ku. Dan aku merasa lebih baik dengan tidak membahasnya panjang lebar dengan teman ku tadi. Aku hanya memikirkan keluarga ku setelah kejadian itu. Bukan tidak mungkin mereka juga merasa aneh dan ada yang tidak beres. Jadi aku putuskan, aku hanya akan kembali fokus akan usaha ku memperbaiki karir ku. Tak perlu menghabiskan energi untuk berdebat. Fokus untuk membuktikan kepada keluarga bahwa semua hal yang aku lakukan tidak akan pernah menghancurkan nama baik mereka ataupun membuat mereka sengsara.

Selasa, 18 September 2012

Galau


Sekitar setahun yang lalu, perasaan resah itu begitu kuat ku raba. Kegelisahan yang entah apa, selalu tergambar dalam raut wajahnya. Pikirannya sering tak terkoneksi saat kami berbincang dan itupun menjadikan pertengkaran kecil di antara kami. Desta memiliki orang tua yang sangat sepuh, terutama ayahnya. Dia anak perempuan paling bontot (bungsu) dan semua saudaranya telah menikah. Bagi orang tua, pastilah berpikir kewajiban mereka belum tuntas bila tak melihat anak nya menikah. Namun bagi nya, kekasih ku yang sangat ku cinta, itu hal yang sangat belum siap untuk dijalaninya.

Baginya, dan juga aku, kami telah berkeluarga. Kami menjalin semuanya dari nol. Berteman, sahabat, saudara, cinta, dan tak ada yang lebih indah dari itu semua. Saling bantu di saat perjuangan menyelesaikan skripsi, saling support saat berjuang mendapatkan pekerjaan, saling menarik saat salah satu di antara kami mulai kehilangan krisis percaya diri, saling memahami dan menunggu rasa rindu itu datang lagi saat salah satu di antara kami mulai out of love. Membangun istana kecil sementara kami di kamar kos yang mungkin luasnya hanya 3x4 Meter. Satu per satu mengisi nya dengan peralatan rumah tangga yang kami butuhkan. Membersihkan rumah, membuatnya berantakan lagi, dan kegiatan yang sangat kami berdua suka, memasak.

Saat ini, aku lah yang berada di masa-masa itu. Masa gamang dan resah atas hubungan ini. Kalau kata armada, "mau di bawa ke mana hubungan ini?" Begitu naif kalau aku harus terus menutup mata dan telinga berpura-pura semua akan baik-baik saja. Sungguh naif pula saat aku berpikir tidak ada keluarga ku yang resah atau curiga atas hubungan ku dengan Desta. Aku sempat merasa binggung saat ibu ku bilang "ya mulai cari cowok yang pates buat dijadiin calon suami". Atau kakek ku yang bilang secara personal " Cepetan nyusul nikah, mumpung mbah masih dikasih umur," Di tambah desakan dari teman dekat di kantor.

Tarik nafas panjang 3 kali pun tak menyelesaikan masalah. Aku binggung, mulai putar otak, dan bahkan aku sampai mengunjungi milis Sepocikopi yang aku ingat pernah membahas masalah "menikah". Desta mungkin tak bisa meraba semuanya dengan jelas. Saat aku mulai membahasnya, "Jangan dipikrkan, biar mengalir saja" dan itu cukup membuatku tenang. Tenang seperti terlelap dalam tidur, tapi bukan melupakannya saat mata kembali terjaga.

Senin, 17 September 2012

Dream

Tidak ada manusia yang tidak memiliki impian bahkan sesederhana ingin memiliki sepeda atau bisa bersekolah di sekolah yang layak dengan sarana dan prasarana yang memadai. Begitupun dengan teman-teman di luar sana yang saat ini sedang menjalin hubungan yang jauh dengan kekasih memiliki impian kelak akan dapat tinggal bersama. Atau mungkin bagi teman-teman yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikannya pasti memiliki impian kelak akan lulus dengan baik dan secepatnya dapat berkerja. Memiliki impian itu sangat mudah untuk dilakukan karena tidak memerlukan banyak tenaga dan juga materi alias gratis euy. Kita hanya perlu benar-benar tahu apa yang kita ingin kan dan menjadikannya impian terbesar kita. Tapi semuanya tak berhenti dengan sekedar bermimpi, bukan? Impian itu hanya akan menjadi impian semata kalau kita tidak melakukan apapun untuk mendekati dan meraih impian itu. 

Ada beberapa orang yang berkata terkadang impian nya suka berubah-ubah. Aku juga sampai sekarang masih kok mengalami hal serupa. Dan saat aku telaah lagi, sebenarnya itu justru yang menjauhkan ku dari keberhasilan. Bagaimana tidak, Impian itu seharusnya merupakan hal yang paling, amat, dan sangat kita inginkan untuk terwujud dan berusaha untuk meraihnya, bukan hanya kita bayangkan, lalu kita biarkan begitu saja dan menguap bersama udara. Hanya kita lah yang tahu apa impian kita dan bagaimana kita harus membuat tangga untuk mencapai puncaknya. Tahu dan mengerti dengan jelas apa yang kamu inginkan, that's your dream..

Takut? Apa benar ada yang merasa takut untuk memimpikan sesuatu? Hal buruk yang kita pikirkan hanya akan menahan langkah kita untuk keluar dari keadaan yang sama setiap harinya.  Berhenti untuk berpikir "tidak mungin". Berhenti untuk merasa takut dan membatasi diri. Kenapa tidak mencoba untuk menuliskan impian mu di buku harian? di sertai dengan langkah-langkah kongkret yang pasti dan harus bisa kamu capai? Hanya kita (dan bantuan Allah) yang bisa membuat impian itu terwujud bahkan saat seisi dunia menertawai impianmu itu. Tapi itu masih lebih baik daripada tidak berani bermimpi, bukan?


Jumat, 14 September 2012

Role in Relationship

Berbicara tentang peran, dari kecil pun setiap individu secara sadar maupun tidak telah menjalankan perannya masing-masing. Mulai dari peran sebagai seorang anak, siswa, teman, hingga saat dewasa seperti peran sebagai ibu, pekerja dan seterusnya. Begitupun ketika memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seseorang, kita juga harus dapat menjalankan peran kita dengan baik.

Banyak orang di luar sana yang membuat kesimpulan bahwa dalam hubungan lesbian itu ada yang berperan sebagai laki-laki dan perempuan. Bisa dikatakan konsep hetero normatif itu begitu melekat pada pikiran ku. Aku sendiri yang telah living together bareng partner selama hampir 6 tahun pun mengaku kami menjalankan konsep yang hetero normatif tadi. Jauh sebelum bertemu dengan partner, saya selalu menjalankan kegiatan seperti layaknya perempuan kebanyakan yaitu all about home yach gak jauh-jauh dari tugas nya ibu rumah tangga lah seperti mencuci baju, bersih-bersih rumah, dan memasak. Bertemu dengan Desta yang "berantakan" bukan merupakan bencana besar bagi saya. Sebaliknya, desta sendiri punya kebiasaan lebih suka membetulkan peralatan yang rusak, mengerti mesin, hardware dan software PC, dan banyak hal pekerjaan laki-laki lain nya.

Buat saya pribadi, saat kedua kebiasaan itu dibawa ke dalam hubungan yang lebih serius yaitu tinggal bersama, kedua nya merupakan ramuan yang saling melengkapi. Kalau orang jawa bilang "Tutup ketemu Tumbu".  Tidak ada yang harus mengubah kebiasaan atau kesenangan masing-masing dalam mengerjakan tugas. Dan hal itu pun juga tidak lantas membatasi untuk pasangan juga turut membantu bila pasangan lain memerlukan bantuan. Aku misalnya, kadang tidak sempat memasak nasi desta yang memasakkan nasi. Peran itu harus di jalankan, tapi hal itu semata-mata untuk saling menjaga agar tidak timbul hal-hal kecil yang dapat memicu permasalahan.

Aku pribadi selalu mengusahakan memasak. Bukan hanya perkara hemat dalam pengeluaran, tapi mencukupi kebutuhan gizi dan pangan itu sangat penting. Pekerjaan Desta yang cukup menyita banyak waktu selalu memicu aku untuk menyiapkan sendiri makanan yang dapat jelas aku pantau kebersihannya, menu kesukaannya, dan juga jam makannya karena alasan sakit maag desta yang cukup parah.

Peran di dalam sebuah hubungan juga bukan melulu masalah pembagian tugas saja. Sebagai pasangan yang baik, aku selalu mencoba mengerti dan memberinya ruang gerak untuk menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman nya. Sesekali hang out hingga tengah malam dan outing bersama. Begitupun dengannya yang selalu mengerti aku harus pulang tiap 1 kali seminggu. Aku yakin, saling pengertian seperti itu tidak akan mengurangi rasa sayang. Justru, saling pengertian seperti itu yang membuat pasangan kita nyaman.


Tersesat

Masih ingatkah kalian akan tulisan ku beberapa hari lalu berjudul Tak Disangka ? itu loh, yang aku cerita dengan antusias tentang kekagumanku sama partner-teman ku yang orang nya sederhana dan bisa dibilang "mau di ajak susah" itu. Anyway mereka sekarang udah pisah memang. Tapi aku cukup tercengang saat membaca Picture Display dalam WhatsApp nya, begini lengkap nya:

TUHAN,
Berilah aku kekuatan, di setiap langkahku
Berilah aku ketegaran, di setiap dukaku
Berilah hikmah, di setiap masalah ku
Berilah kedamaian, di setiap resahku
Tuntunlah selalu aku ke Jalan Mu
Jangan biarkan Aku
TERSESAT lagi......

 Aku terkejut dengan kata terakhirnya. Tersesat? siapa yang menyesatkan siapa? Hm, flashback ke belakang. Dulu memang awalnya partner-teman ku itu seorang heteroseksual. Menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tapi, akhirnya dia memutuskan untuk menjalani hubungan dengan teman ku yang penampilannya sangat maskulin. Dan sekarang mereka putus karena partner-teman ku itu lebih memilih untuk bersanding dengan seorang laki-laki. Apapun pilihannya aku selalu menekankan dan berkali-kali ku sampaikan yang penting kamu bahagia. Saat dia memutuskan menjalin hubungan dengan teman ku, aku dan desta menyambutnya dengan tangan terbuka. Begitupun sekarang saat ia telah tak bersama dengan teman ku. Bagi kami, teman bukan hanya yang senasib sepenanggungan saja, tapi yang mengerti perasaan temannya dan membiarkannya menjalani apa yang membuatnya bahagia.

Tapi ada ganjalan, mungkin bisa dibilang kecewa. Mengapa dia harus menganggap apa yang telah terjadi padanya adalah sesuatu yang sesat. Meskipun dia tak menjelaskannya secara jujur, tapi pasti jati dirinya sebagai lesbian lah yang dimaksud dengan "Tersesat". Buat aku pribadi, kata itu dan konteksnya merupakan kekerasan verbal. Bagaimanapun, dia adalah perempuan dewasa yang mampu berpikir dan mengambil keputusan saat itu saat memutuskan untuk menjalin hubungan dengan perempuan. Tapi saat dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, mengapa harus ada ungkapan seperti itu. Ungkapan yang memperlihatkan bahwa justru dirinya melempar tanggung jawabnya ke muka orang lain. Ungkapan yang memperlihatkan bahwa dirinya sangat tidak dewasa.

Salah kalau ada anggapan lesbian itu manusia paling lemah dan perasaannya lebay mudah tersinggung. Coba pikirkan, di kalangan hetero pun, saat seseorang memutuskan hubungan yang telah lama dijalin dan mengungkapkan bahwa selama ini dia "tersesat", pastilah juga mengalami kekecewaan yang sama. Merasa tidak dihargai baik sebagai pasangan maupun manusia yang memiliki hati nurani.

Hmm (menarik nafas panjang)....Untuk Note aja yach, aku disini bukan ingin mengajak untuk membenci teman-teman hetero, tapi justru tugas kita semua untuk tetap rendah hati agar paling tidak kalaupun logika tak lagi berjalan, hati nurani dan ketulusan kita terhadap sesama manusia dapat teraba oleh mereka yang menganggap negatif label Lesbian.

Met melanjutkan aktivitas lagi ya

Kamis, 13 September 2012

No Much Time

Pagi all,,,ijinkan aku membuka pagi ini dengan doa semoga kita semua selalu diberi kesehatan, di mudahkan rejeki dan di lingkupi selalu dengan bahagia dengan orang yang kita cintai. Bicara soal rejeki, pastinya tidak cukup hanya dengan berdoa. Doa itu seperti memohon restu dan meminta diberikan kelancaran. Tapi untuk menjemput rejeki itu, kita tetap harus berjuang, berusaha bahkan sampai mata terkantuk dan raga terasa letih. Terutama bagi seorang lesbian. Menyiapkan kemandirian finansial itu harus dimulai dari sekarang. Ya, sekarang. No much time for us. Udah gak ada banyak waktu. Kejar prestasimu, karir mu, rejeki mu seolah kamu akan kehabisan waktumu esok hari.

Tenang dulu, baru di awal paragraf sepertinya sudah mulai panas ya. Gimana enggak, aku begitu menggebu-gebu karena setiap aku membaca artikel dari Sepocikopi, aku merasa di bukakan mata dan wawasan ku setiap hari nya. Intinya sih, dalam setiap artikelnya, Sepocikopi selalu mendoktrin kita bahwa kita sangat layak dan harus bisa menjalani hidup bahagia apapun orientasi seksual kita, menghargai diri sendiri dengan tidak mengutuk apalagi menjauhkan diri dari pergaulan disekitar kita, dan satu hal yang paling penting adalah sama sekali bukan alasan untuk kita menjauh dari Tuhan. Kita juga harus berkarya, santun, berintektual tinggi, dan pasti nya meraih kemandirian finansial kita sendiri.

Oke, aku bahas satu per satu yach. "Hidup bahagia apapun orientasi seksual kita" itu konteks nya pada penerimaan diri sendiri dan yang lebih penting kita juga memahami bahwa kondisi seperti kita di masyarakat dan keluarga kita saat ini adalah bukan hal yang mudah untuk dipahami. Menjadi suatu keharusan bagi kita untuk memahami hal itu, akan membuat kita kelak tidak bertindak sesuatu yang malah membuat kita atau label Lesbian (khususnya), menjadi semakin dibenci masyarakat. Toh bahagia yang hakiki itu saya yakin tidak dibangun di atas penderitaan dan kekecewaan orang lain. Hm, maksud saya disini secara frontal dan tanpa persiapan matang mengaku kepada keluarga bahwa kita Lesbian. NO!

Buat aku dan pasangan, cinta kami pada orang tua begitu besar bahkan kalaupun suatu saat kami harus memilih, kami masing-masing sepakat untuk lebih membahagiakan kedua orang tua kami. Eits, jangan buru-buru diartikan kami akan menikah. Meskipun kami sendiri tidak tahu kemana muaranya kelak, kami yakin banyak hal yang bisa membuat orang tua kita bahagia dan bangga selain sebuah pernikahan. Dan saat ini kami berdua sedang mengupayakan hal itu.

Ya, bener banget. Kemandirian finansial. pekerjaan yang mapan maupun komitmen kami berdua di mata kedua orang tua kami masing-masing untuk mandiri menjadi tujuan utama kami saat ini. Dan kami merasa lebih bahagia dengan menjalani ini semua. Bagi kami, tak perlu kedua orang tua kami tahu kenapa anak gadisnya sampai saat ini tak kunjung membicarakan pernikahan. Tapi kami secara perlahan sengaja mengubah mindset kedua orang tua kami, "bahkan saat kami tak menikah pun kami bisa survive". Yach, meskipun jalannya masih panjang karena aku yakin orang tua mana pun akan lebih nyaman melihat anak gadisnya menikah. That's way, aku bilang di awal kita tidak punya banyak waktu. Kita tidak punya banyak waktu buat memikirkan hal yang tidak penting atau aktif dalam komunitas yang juga tidak memberikan dampak positif apapun hanya demi tidak ingin di katakan tidak peduli dengan teman-teman yang memiliki nasib yang sama.

So ladies, ayo siapak energi mu hari ini, kejar mimpi mu, buang segala pikiran negatif yang mungkin akan membuat mud kamu menguap. Kita layak dan pasti bisa kok mencapai semua nya baik perlahan maupun cepat. Kita ketemu di puncak yang sama yach...


Rabu, 05 September 2012

Refleksi

Menurut Wikipedia, Kesadaran adalah kesadaran akan perbuatan. Sadar artinya merasa, tau atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat akan dirinya, ingat kembali (dari pingsannya), siuman, bangun (dari tidur) ingat, tau dan mengerti, misalnya , rakyat telah sadar akan politik. Kesadaran merupakan suatu yang dimiliki oleh manusia dan tidak ada pada ciptaan Tuhan yang lain. Kesadara yang dimiliki oleh manusia merupakan bentuk unik dimana ia dapat menempatkan diri manusia sesuai dengan yang diyakininya. 

Refleksi merupakan bentuk dari penggungkapan kesadaran, dimana ia dapat memberikan atau bertahan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam lingkungan. Setiap teori yang dihasilkan oleh seorang merupakan refleksi tetang realitas dan manusia. Manusia dalam melahirkan cinta untuk semua merupakan jawaban untuk eksistensi manusia yang membutuhkan rasa dan sayang dari yang lain. Begitupula, tetang kesadaran merupakan sangat berkaitan dengan manusia bahkan yang membedakan manusia dengan binatang.

Kalau merujuk pada refleksi secara harfiah di atas, berarti kegiatan refleksi itu sebenarnya sesekali perlu loh buat setiap orang. Yah, tapi terkadang kita terlalu sibuk untuk hal-hal seperti itu. Pasti deh, mending hang out aja deh ke Mall daripada galau mikirin refleksi diri sendiri. hehehe. 

Hm, tapi kalau di coba boleh juga sih. Mulai dari depan ya alias fisik. Yach, secara garis besar, aku ini cukup oke. Berat badan 45kg, tinggi 152, cukup ideal lah. Sintal alias agak bantet gitu, hanya kekurangannya di bagian perut yang mulai endut. Hm, tapi masih dalam batas wajar dengan predikat ngegemesin. Tapi sayang nya kulit muka ku tergolong sangat riskan. Mudah berjerawat dan timbul flek hitam. Memang sih, udah amat sangat lebih baik dari waktu SMA. Asal aku rajin bersihkan muka dan jaga makanan, masih terkontrol.

Untuk sifat, aku ini manja, seenaknya sendiri dan pastinya agak susah buat ditegur. Jelek banget ya? iya memang. Hm, ditambah lagi aku tuh mudah tersinggung, nah lengkap banget kan sifat buruknya? Kalau kamu pikir aku menulis semua ini dengan mudah, mungkin untuk sekarang iya. Tapi aku butuh waktu cukup lama untuk mengakui bahwa ternyata memang aku memiliki sifat-sifat buruk itu. Beruntung, ada Desta yang jadi satu-satunya orang yang selalu bisa ingetin aku.

Oke, refleksi nya nyambung lagi next time yach


Tak Di Sangka

Hai kumbang-kumbang di luar sana. Belalang dan semut-semut penyuka bunga matahari. Hari ini aku kaget banget. alkisah, aku dan partner punya teman yang lumayan deket. Hm, ya gak deket buanget sih. Tapi aku dan partner tuh ngerasa cocok sama dia. Orangnya lucu, sedikit bloon, trus penakut. Pokoknya gak sinkron banget deh sama penampilannya yang Butchy.
Aku sama partner juga prihatin sama keadaannya. Dia berasal dari keluarga broken home. Dari kecil dia tinggal sama ayahnya sedangkan ibu nya memilih pulang ke kampung halamannya. Tapi, beberapa bulan yang lalu, dia ditinggal sendiri oleh ayahnya lantaran penyakit yang cukup parah. beruntung saat itu dia punya partner yang selalu nemenin dia.
Aku dan Desta (partner) belum lama ini ke rumah nya yang dulu adalah rumah ayahnya. Kami sempat ngobrol dan becanda bareng, bahkan sholat berjama'ah. Saat itu, kami lihat kondisi rumahnya yang ternyata sangat tidak nyaman. Dindingnya hanya berbatu kapur tanpa di tutup semen seluruhnya, atap rumahnya pun hanya genteng tanpa plafon dan penutup di tiap sudut-sudut nya. Udara dingin di dalam rumah pun seperti tak terbendung oleh bangunan seperti lazimnya saat kita di dalam rumah. Begitupun dengan nyamuk yang menyergap hampir seluruh badan.
Tapi di tempat yang menurut aku dan Desta sangat tidak nyaman itu, aku melihat senyum tulus dari wajah mereka berdua (teman ku dan partnernya). Mereka tampak biasa saja bahkan bisa dibilang nyaman banget berada di rumah yang seperti itu. Kalaupun itu hanya usaha untuk menutupi ketidaknyamanan mereka, aku pikir itu berhasil banget. Aku dan Desta sampai tak bisa membayangkan bagaimana kalau kami yang harus tinggal di tempat seperti itu. Terutama aku yang langsung minta rumahnya di bongkar atau paling tidak, di bagian kamar aku buat tempat yang paling nyaman untuk ditempati.
Anyway, sore ini aku dengar kabar mereka pisah. padahal aku sempet berulang-ulang memuji partner temen ku karena dia cewek yang tangguh banget bisa di ajak susah sampe kayak gitu. Kalo di inget-inget lagi, hubungan ku sama Desta yang udah hampir 6 tahun ini bukan gak pake perang dunia lho. Kalau bukan karena aku yang mudah luluh melihat kesungguhan Desta, dan kalau bukan karena Desta yang bisa banget bersabar dan meyakinkan aku akan banyak hal, mungkin kita udah pisah dari 2 bulan kita jadian dulu.

I love u Desta....Destania Artafreya

Kamis, 02 Agustus 2012

Full Love of Ramadhan


Oleh: freya
Kalau ada yang bilang ramadhan itu moment yang tepat untuk mempererat hubungan keluarga, aku salah satu yang berteriak, “Setuju!” Aku dan partner adalah seorang muslimah. Kami menyadari bahwa orientasi seksual kami bukan alasan untuk tidak dekat dengan Tuhan. Justru apapun yang kami dapat dan rasakan saat ini, kami coba untuk pasrahkan pada-Nya.
Aku memutuskan tinggal bersama dengan pasangan ku dalam 1 kamar kos 6 tahun yang lalu dan kedua orang tua ku tinggal tak jauh dari kota tempat tinggal ku. Sekitar 1 jam udah sampai. Tapi, dengan keyakinan penuh aku bulatkan tekad untuk tinggal sendiri tepatnya saat mulai kuliah 7 tahun lalu. Kedua orang tua ku mengetahui partner sebagai teman 1 kampus ku. Tapi sejak awal, ayah ku tidak begitu menyukai partner. Maklum, mungkin di alam bawah sadar beliau ada firasat buruk terhadap teman putrinya ini, semacam sindrom homophobia. Apalagi saat itu partner ku emang berpenampilan sedikit maskulin.
6 tahun sudah kami bersama, dan selama itu pula lah kedua orang tua ku mengenal partner. Kami berdua selalu berusaha menunjukkan bahwa kebersamaan kami (dalam konteks pertemanan) bukan hal yang sia-sia apalagi saling merugikan. Kami berusaha menunjukkan bahwa kemandirian kami adalah keputusan yang tepat dan membuat aku menjadi pribadi yang lebih dewasa.  Yang menjadi berat adalah saat ayah ku dulu pernah menyatakan ketidaknyamanannya atas kehadiran partner ku, seolah ketakutan yang tak mampu diungkapkan secara harfiah dan mendetail saat itu. Sungguh hari hari yang buruk. Saat itu aku berpikir, tidak ada gunanya berkata atau membela seseorang teman dan meyakinkan ayahku bahwa aku tak apa-apa berteman dengan nya. Aku baik-baik saja, dan aku tak akan pernah meninggalkan keluarga ku demi dia.
Aku dan partner mencari cara lain. Kami sibuk kan diri dengan karir. Kami berusaha menganggap apa yang terjadi sebagai cambuk untuk meraih kemandirian kami dan mungkin juga bisa di bilang sukses dalam karir kami masing-masing. Tapi aku juga tak berhenti mengatur momen kapan partner ku bisa berkunjung ke rumah meskipun sekedar memberi oleh-oleh atau bahkan membantu saat ada acara. Karena aku yakin, ayah ku tidak pernah membenci orang yang dekat dengan putrinya, beliau hanya tidak mengenal betul orang yang telah membuat putrinya jatuh cinta.
Sekarang ini, penerimaan ayahku atas kehadiran partner mulai berubah. Bukan baru-baru ini, tapi melalui proses yang aku sendiri juga tidak bisa menjelaskan secara detail. Yang pasti, aktifitasku pulang setiap weekend sekarang di selimuti dengan pertanyaan kabar partner dari ayah. Kalau sesekali membicarakan partner, banyak hal yang ternyata di perhatikan ayah. Seperti sakit maag nya partner. Mungkin bagi sebagian orang itu hal sepele. Tapi bagi ku, dan partner ku pastinya, itu hal luar biasa. Seperti dapat perhatian dari Kepala Negara.
Ramadhan tahun ini, setiap weekend jadi jadwal utama berbuka puasa di rumah ku. Bersama keluarga ku dan partner. Yang aku butuhkan bukan lah orang tua ku tahu aku mencintai partner ku. Tapi, penerimaan mereka terhadap partner ku dengan baik, sama baiknya dengan penerimaan orang tua partner kepada ku. Hanya sebatas itu. Karena kedua orang tua partner sudah aku anggap sebagai orang tua ku sendiri. Dan aku akan merasa sangat bersalah kalau ayah ku memperlakukan partner dengan tidak baik

Senin, 02 Juli 2012

NICE DAY

         Dari sejak aku menginjakkan kaki di surabaya lagi, itu sudah jadi rangkaian hari yang indah buat aku sayang,...tiga hari di kampung halaman membuat aku jadi kelimpungan karena ga ada kamu. Tapi begitu melihat kamu lagi, hatiku seperti disiram es satu teko, adem banget.
         Aku sama sekali ga ngerti kenapa aku...(kalo bahasa anak sekarang) GALAU banget kalo ga liat kamu, aku ngerasa Jatuh Cinta Lagi sama kamu Freya. Rasanya seperti menunggu bom waktu yang mau meledak...BOOOM. Dan ledakan itu terjadi ketika bisa melihat pandangan mesra mata kamu di pulau kecil tempat beristirahat kita setiap malam.
        "Istimewa" itu kata yang berkali kali terulang di hatiku setelah kita selesaikan episode pertama berjuang melawan gairah yang menggebu.
       Pagi datang tanpa ada senyuman di bibirmu. Rasa kecewa yang hadir karena menunggu sesuatu yang tak kunjung hadir. Hingga kita putuskan untuk meliburkan diri dari segala aktivitas hari ini. tapi aku yakin akan bisa mengobati rasa kecewamu. Dan..."Terbukti" Episode ke-2 dimulai dan aku harap kamu juga merasakan yang aku rasakan juga. Hingga sore ini senyum terus tersungging di bibirmu.
Terima Kasih untuk segala yang telah kamu beri 2 hari ini sayang. I LOVE U...

oleh: desta