Masih ingatkah kalian akan tulisan ku beberapa hari lalu berjudul Tak Disangka ? itu loh, yang aku cerita dengan antusias tentang kekagumanku sama partner-teman ku yang orang nya sederhana dan bisa dibilang "mau di ajak susah" itu. Anyway mereka sekarang udah pisah memang. Tapi aku cukup tercengang saat membaca Picture Display dalam WhatsApp nya, begini lengkap nya:
TUHAN,
Berilah aku kekuatan, di setiap langkahku
Berilah aku ketegaran, di setiap dukaku
Berilah hikmah, di setiap masalah ku
Berilah kedamaian, di setiap resahku
Tuntunlah selalu aku ke Jalan Mu
Jangan biarkan Aku
TERSESAT lagi......
Aku terkejut dengan kata terakhirnya. Tersesat? siapa yang menyesatkan siapa? Hm, flashback ke belakang. Dulu memang awalnya partner-teman ku itu seorang heteroseksual. Menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tapi, akhirnya dia memutuskan untuk menjalani hubungan dengan teman ku yang penampilannya sangat maskulin. Dan sekarang mereka putus karena partner-teman ku itu lebih memilih untuk bersanding dengan seorang laki-laki. Apapun pilihannya aku selalu menekankan dan berkali-kali ku sampaikan yang penting kamu bahagia. Saat dia memutuskan menjalin hubungan dengan teman ku, aku dan desta menyambutnya dengan tangan terbuka. Begitupun sekarang saat ia telah tak bersama dengan teman ku. Bagi kami, teman bukan hanya yang senasib sepenanggungan saja, tapi yang mengerti perasaan temannya dan membiarkannya menjalani apa yang membuatnya bahagia.
Tapi ada ganjalan, mungkin bisa dibilang kecewa. Mengapa dia harus menganggap apa yang telah terjadi padanya adalah sesuatu yang sesat. Meskipun dia tak menjelaskannya secara jujur, tapi pasti jati dirinya sebagai lesbian lah yang dimaksud dengan "Tersesat". Buat aku pribadi, kata itu dan konteksnya merupakan kekerasan verbal. Bagaimanapun, dia adalah perempuan dewasa yang mampu berpikir dan mengambil keputusan saat itu saat memutuskan untuk menjalin hubungan dengan perempuan. Tapi saat dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, mengapa harus ada ungkapan seperti itu. Ungkapan yang memperlihatkan bahwa justru dirinya melempar tanggung jawabnya ke muka orang lain. Ungkapan yang memperlihatkan bahwa dirinya sangat tidak dewasa.
Salah kalau ada anggapan lesbian itu manusia paling lemah dan perasaannya lebay mudah tersinggung. Coba pikirkan, di kalangan hetero pun, saat seseorang memutuskan hubungan yang telah lama dijalin dan mengungkapkan bahwa selama ini dia "tersesat", pastilah juga mengalami kekecewaan yang sama. Merasa tidak dihargai baik sebagai pasangan maupun manusia yang memiliki hati nurani.
Hmm (menarik nafas panjang)....Untuk Note aja yach, aku disini bukan ingin mengajak untuk membenci teman-teman hetero, tapi justru tugas kita semua untuk tetap rendah hati agar paling tidak kalaupun logika tak lagi berjalan, hati nurani dan ketulusan kita terhadap sesama manusia dapat teraba oleh mereka yang menganggap negatif label Lesbian.
Met melanjutkan aktivitas lagi ya
Jumat, 14 September 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan meninggalkan jejak dengan baik karena kita adalah manusia yang ber-etika