Social Icons

Rabu, 19 September 2012

Habis gelap (belum) terbitlah terang

Slogan yang lekat sekali dengan sosok Ibu RA Kartini itu memang telah mengubah penerimaan masyarakat terhadap peran wanita yang lebih baik. Terbukti, saat ini tak ada lagi larangan mengenyam pendidikan bagi kaum perempuan. Tidak ada lagi larangan untuk bekerja sederajat dengan para laki-laki. Tidak ada lagi comooh atau cibiran atas pendapat para wanita. Bahkan di Indonesia sendiri, telah mengukir sejarah dengan di angkatnya presiden wanita untuk pertama kalinya yaitu Ibu Megawati Soekarno Putri. Meskipun sosoknya masih belum mampu memberikan perubahan besar, namun perlu di akui, bahwa keyakinan dan keberaniannya untuk terus maju sebagai tokoh politik dan menjadi orang nomor 1 di negeri ini menjadi hal yang patut di acungi jempol. Berusaha menyejajarkan hak-hak perempuan dan laki-laki di mata hukum, sosial, maupun ekonomi.

Tapi apakah semuanya telah berubah sedemikian rupa? Nampaknya belum sepenuhnya. Tadi malam aku terlibat obrolan singkat dengan seorang teman saat berada di kelas perpajakan. "Jadi, kamu kos? Kan jarak antara rumah kamu dengan kos cuma 1 jam, ngapain musti kos? apa gak rancu kamu kos cuma karena alasan pekerjaan?" tanya nya dengan mengernyitkan dahi sedemikian rupa. Entah apa yang ada dalam pikirannya. I mean, why you look so surprised like that? Am I wrong? Am I a criminal do that? Spontan aku menyambar dengan tetap mengatur nada bicara "Aku kan sambil ngajar privat, jadi gak mungkin aku bolak-balik". 

And you know what I feel after said that? Sucks. Hanya karena waktu itu di kelas ada pembahasan soal ujian, aku tak mau menyinggungnya panjang lebar. Sesaat aku merasa begitu menyebalkan. Mengapa responnya seperti itu saat mengetahui aku tidak tinggal bersama keluarga ku dan memilih mandiri, tinggal terpisah, meskipun jarak antara rumah ke kos bisa kutempuh sejam, dan jarak kos ke tempat kerja sekitar setengah jam. 

Saat dalam perjalanan pulang, aku berpikir, mungkin istilah habis gelap terbitlah terang itu masih belum sepenuhnya dapat di aplikasi untuk semua hal. Salah satunya seorang perempuan muda yang memilih tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. Hal itu seolah di anggap negatif. Ingin bebas dari orang tua, melakukan banyak hal tanpa dilarang dan sebagainya. Memang benar. Awal aku memutuskan untuk tinggal terpisah adalah aku tipe orang yang tidak betah capek. Harus Bolak-balik berangkat dan pulang kuliah menerobos kemacetan separah itu, buat aku hanya buang-buang energi dan waktu. Jadi, aku putuskan kos. Dan itu berlanjut saat aku bekerja. Enough berpikir kos itu tempatnya hura-hura. NO. Mungkin ada beberapa yang seperti itu, dan imbasnya adalah kita yang tidak melakukannya ini. Tapi apapun itu, setiap orang yang telah memutuskan pilihan hidupnya, apapun itu, baik buruknya adalah tanggung jawab dia. Dan sampai sekarang pun, banyak hal yang selalu aku tuntut dari diriku untuk membuktikan bahwa tak ada yang salah dengan keputusan ku untuk hidup mandiri. Dan aku bertanggung jawab sepenuhnya atas keputusan ku. Dan aku merasa lebih baik dengan tidak membahasnya panjang lebar dengan teman ku tadi. Aku hanya memikirkan keluarga ku setelah kejadian itu. Bukan tidak mungkin mereka juga merasa aneh dan ada yang tidak beres. Jadi aku putuskan, aku hanya akan kembali fokus akan usaha ku memperbaiki karir ku. Tak perlu menghabiskan energi untuk berdebat. Fokus untuk membuktikan kepada keluarga bahwa semua hal yang aku lakukan tidak akan pernah menghancurkan nama baik mereka ataupun membuat mereka sengsara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak dengan baik karena kita adalah manusia yang ber-etika