Saat ini saya berada dalam kondisi krisis itu. Krisis kepercayaan diri akibat adanya 2 frase itu. Ijinkan saya untuk tidak terus menyebutnya berkali-kali. Kepercayaan diri bagi setiap manusia bukan sesuatu yang bisa dibangun secepat kedipan mata saat rasa itu mulai hilang. Setangguh apapun batu besar kalau di hantam-bahkan hanya dengan kayu sebesar lengan anak kecil-pun akan menunjukkan celahnya alias retak. Saya pun larut dalam label dan cap yang mulai di arahkan pada saya hingga berkali-kali tanpa partner sadari, akhir-akhir ini aku sering bertanya padanya "apa aku terlihat tua?" Dia mengatakan "Enggak kok. Kamu terlihat sesuai usia kamu, gak lebih tua. Bahkan terkadang terlihat imut seperti masih anak kuliahan" Jawaban itu seperti oase di padang pasirnya krisis kepercayaan diri ku.
Bagaimana dengan lesbian? Masyarakat secara umum tidak serta merta menyandingkan perempuan yang tidak kunjung memiliki pasangan lawan jenis dimungkinkan adalah seorang lesbian. Apalagi kalau penampilan perempuan itu sangat feminin, cantik, ramah, dan menarik. Berbeda dengan pria dewasa yang berpenampilan menarik tapi tak kunjung berpacaran, serta merta masyarakat berpikir bahwa lelaki itu mungkin saja Gay. Hal ini dimungkinkan fenomena Gay dengan segala pandangan buruk nya telah bersanding secara nyata dalam kehidupan masyarakat indonesia saat ini. Teman-teman gay bisa di katakan lebih open dibandingkan dengan lesbian. Bahkan mau tidak mau, bisa dikatakan penerimaan terhadap kaum gay saat ini sudah bukan hal yang terlampau sulit. Media dalam hal ini berperan besar. Munculnya film yang mengangkat isu LGBT seperti Arisan, garapan Nia Dinata cukup mampu diterima dan membuka wawasan masyarakat akan kehadiran dan keberadaan teman-teman gay di antara kehidupan mereka.
Sementara lesbian, saya tidak cukup tahu bagaimana pandangan masyarakat luas. Tapi dilingkungan saya saat ini, lebian itu seolah lebih kejam dan hina dari seorang yang hamil di luar nikah. Bahkan kalau disandingkan secara bersamaan, lebih baik hamil di luar nikah dari pada lesbian. Hm, lebih mengerikan dan lebih tidak bersahabat. Aku berpikir, kalau seperti itu konsekuensinya, aku lebih baik di beri label yang pertama saja. Mencoba menerima dengan label itu. Hm, berusaha berdamai dengan label 'pemberian' dari lingkungan ku kelak (yang pastinya akan lebih hebat cobaannya). Why not? Aku ubah saja dari label pemberian itu dengan sebutan HIGH QUALITY JOMBLO yang sempat ngetrend di tahun 2007 an lewat program Katakan Cinta. Bukan hanya sebutan, tapi bagaimana predikat itu layak melekat pada diri saya itu yang lebih penting.
Gue Jomblo (baca: gak punya pacar cowok), emang iya. Masalah buat loe? Semangat ladies.....Cheeeeeeeeeeeeers .......................................................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan meninggalkan jejak dengan baik karena kita adalah manusia yang ber-etika