Social Icons

Kamis, 04 Oktober 2012

Perawan tua atau Lesbian?

Sebenarnya menuliskan judul itu aku seperti memberanikan diri melewati jalan sempit yang di sebelahnya ada jurang yang sangat curam. 2 frase yang sama sekali tidak ingin aku tulis, tapi aku butuh menuangkannya di sini. Berapa usia mu saat ini? Well, kalau kamu perempuan dengan usia melewati seperempat abad dan tak kunjung memiliki pacar (baca: cowok),warning akan ada stempel yang siap melekat di dahi mu. Perawan Tua. Mengerikan menulisnya. Dari kecil, saya yakin hampir setiap perempuan yang lahir ke dunia, telah terdoktrin untuk tidak menjadi bagian dari label/cap itu, termasuk saya. Kata-kata itu seperti menghantui hampir sebagian besar wanita di dunia. Doktrin yang sebenarnya dari segi psikologis sangat menyiksa, dan semakin menggerogoti kepercayaan diri yang sudah dibangun setinggi gedung pentagon. Label itu menurut saya pribadi juga sangat menyudutkan bagi kaum perempuan. Ironisnya, bahkan perempuan pun terkadang terlampau takut dan justru membenarkan dan mengokohkan itu sebagai hal yang PALING BENAR. Secara tidak langsung, perempuan disini hanya di anggap sebagai obyek yang bisa "dinilai" saja, bukan di hormati dengan segala keinginannya."Terlalu" (kalo kata bang haji). Bahkan saat ada teman perempuan yang bilang "aku udah laku" untuk mengekspresikan kebahagiaannya saat memiliki pacar, aku hanya berpikir, "hah, ternyata kamu menganggap dirimu seonggok barang yang bisa dibeli? dengan apa, tiket nonton atau bakso pinggir kantor?". Ungkapan yang mungkin untuk di pakai bercanda tapi buat aku tidak cukup pantas mewakili sosok perempuan yang punya banyak kelebihan. Itu juga kalau perempuan tahu apa yang dia miliki.

Saat ini saya berada dalam kondisi krisis itu. Krisis kepercayaan diri akibat adanya 2 frase itu. Ijinkan saya untuk tidak terus menyebutnya berkali-kali. Kepercayaan diri bagi setiap manusia bukan sesuatu yang bisa dibangun secepat kedipan mata saat rasa itu mulai hilang. Setangguh apapun batu besar kalau di hantam-bahkan hanya dengan kayu sebesar lengan anak kecil-pun akan menunjukkan celahnya alias retak. Saya pun larut dalam label dan cap yang mulai di arahkan pada saya hingga berkali-kali tanpa partner sadari, akhir-akhir ini aku sering bertanya padanya "apa aku terlihat tua?" Dia mengatakan "Enggak kok. Kamu terlihat sesuai usia kamu, gak lebih tua. Bahkan terkadang terlihat imut seperti masih anak kuliahan" Jawaban itu seperti oase di padang pasirnya krisis kepercayaan diri ku.

Bagaimana dengan lesbian? Masyarakat secara umum tidak serta merta menyandingkan perempuan yang tidak kunjung memiliki pasangan lawan jenis dimungkinkan adalah seorang lesbian. Apalagi kalau penampilan perempuan itu sangat feminin, cantik, ramah, dan menarik. Berbeda dengan pria dewasa yang berpenampilan menarik tapi tak kunjung berpacaran, serta merta masyarakat berpikir bahwa lelaki itu mungkin saja Gay. Hal ini dimungkinkan fenomena Gay dengan segala pandangan buruk nya telah bersanding secara nyata dalam kehidupan masyarakat indonesia saat ini. Teman-teman gay bisa di katakan lebih open dibandingkan dengan lesbian. Bahkan mau tidak mau, bisa dikatakan penerimaan terhadap kaum gay saat ini sudah bukan hal yang terlampau sulit. Media dalam hal ini berperan besar. Munculnya film yang mengangkat isu LGBT seperti Arisan, garapan Nia Dinata cukup mampu diterima dan membuka wawasan masyarakat akan kehadiran dan keberadaan teman-teman gay di antara kehidupan mereka.

Sementara lesbian, saya tidak cukup tahu bagaimana pandangan masyarakat luas. Tapi dilingkungan saya saat ini, lebian itu seolah lebih kejam dan hina dari seorang yang hamil di luar nikah. Bahkan kalau disandingkan secara bersamaan, lebih baik hamil di luar nikah dari pada lesbian. Hm, lebih mengerikan dan lebih tidak bersahabat. Aku berpikir, kalau seperti itu konsekuensinya, aku lebih baik di beri label yang pertama saja. Mencoba menerima dengan label itu. Hm, berusaha berdamai dengan label 'pemberian' dari lingkungan ku kelak (yang pastinya akan lebih hebat cobaannya). Why not? Aku ubah saja dari label pemberian itu dengan sebutan HIGH QUALITY JOMBLO yang sempat ngetrend di tahun 2007 an lewat program Katakan Cinta. Bukan hanya sebutan, tapi bagaimana predikat itu layak melekat pada diri saya itu yang lebih penting.
Gue Jomblo (baca: gak punya pacar cowok), emang iya. Masalah buat loe? Semangat ladies.....



Cheeeeeeeeeeeeers .......................................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak dengan baik karena kita adalah manusia yang ber-etika