"Bisakah anda deskripsikan kelebihan dan kekurangan diri anda?"
Kalian pasti sering deh mendapat pertanyaan serupa saat melakukan interview sebuah pekerjaan. Dulu, waktu masih unyuk-unyuk alias masih dodol, aku pikir kenapa musti ada sesi pertanyaan itu? kenapa bukan seputar background pendidikan atau keahlian ku saja? Rasanya seperti tidak terlalu penting. Namun aku sungguh keliru besar. Kalau di nilai mungkin aku langsung dapat angka Nol (0) besar. Nah, kan aku udah bilang, itu waktu aku masih unyuk.
Mengenali diri sendiri itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dalam pikiran kita, hey kan aku yang punya jiwa dan raga ini jadi ya aku pasti tahu lah karakter ku seperti apa. Ngapain harus ada sesi mengenal diri(lagi)? Dalam kenyataannya, banyak orang yang marah atau tidak bisa menerima saat orang lain mengatakan dengan sangat gamblang kalau dirinya misalnya, adalah orang yang pelit atau malas, atau apapun yang terkesan negatif. Respon marah yang meledak-ledak saat mendapati kritik dari orang lain tentang dirinya tidak bisa diartikan bahwa dia telah mengenal dirinya dengan begitu baik hingga dia berhak merasa tidak terima dengan kritik orang lain. Bagaimana jika ternyata kita sebenarnya sedang tidak mau menerima kenyataan bahwa memang kita memiliki karakter negatif seperti yang di bilang oleh teman kita.
Untuk mengenali diri kita sendiri, aku yakin setiap orang punya cara tersendiri. Mulai dari A-Z dan aku yakin, tak sedikit buku yang membahas tentang itu. Aku sendiri merasakan bahwa mengenali diri sendiri itu tidak bisa dalam waktu seharian penuh kita merenung. Berbagai masalah yang datang silih berganti, kegiatan berinteraksi ku dengan orang lain, dan berbagai aktivitas yang aku kerjakan dan melihat respon atau akibat dari apa yang aku kerjakan sedikit demi sedikit membantuku dalam mengenali sifat dan karakterku.
Seperti dalam tulisan ku dulu Refleksi, iya memang aku mengakui beberapa karakter ku yang bisa dibilang minus. Dan aku rasa perlu kita memberanikan diri untuk tidak hanya tahu dan mengakui, menuliskannya justru membuat kita menjadi lebih berdamai dan memikirkan cara bagaimana agar karakter buruk itu tidak menjadi dominan dalam diri kita. Itulah ujung dari sebuah refleksi. Bukan sekedar tahu dan mengakui tapi tindakan apa yang harus kita lakukan setelahnya. Karena penting untuk kita mengubah apa yang buruk. Tujuannya bukan untuk menarik simpati orang lain, tapi alangkah bahagianya kita saat kita mendapati diri kita bukan sosok atau pribadi yang memiliki karakter buruk yang lebih dominan. Dan semua itu hanya kita yang bisa mengusahakannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan meninggalkan jejak dengan baik karena kita adalah manusia yang ber-etika