Social Icons

Jumat, 05 Oktober 2012

Tanpa nama

Melihat kembali drama serie korea berjudul Coffee Prince memaksa ku mengingat kembali perasaan dan kenangan itu. Salut atas akting Gong Yoo yang berperan sebagai Han Kyul. Seorang pria dewasa yang merasa dunianya jungkir balik saat mendapati dirinya mencintai seorang pria. Aktingnya mampu membuat aku  terdiam dan hampir menitikkan air mata. Kekalutan yang coba dia tampakkan dalam aktingnya itu sangat merepresentasikan mungkin hampir semua orang yang merasakan hal yang sama, yaitu ketika mendapati diri mencintai sesama jenis.

Kala itu usia ku baru 20 tahun, tepat di perayaan ulang tahun ku, make a wish saat itu adalah aku ingin benar-benar diberikan keyakinan atas apa yang aku rasakan. Aku jatuh cinta padanya, perempuan sok eksis dan banyak bicara, lebih tepatnya humble. Perempuan yang saat semester 1 dan 2 membuatku begitu muak bahkan saat mendengarnya bicara. Namun entah mengapa saat semester 3 mata dan pikiran ku seolah tidak lagi sinkron dengan otak ku. Mata ini selalu ingin melihat apa yang dilakukannya, melihatnya tertawa lepas layaknya anak kecil yang tidak pernah memiliki beban. Pikiran ini terus memikirkan tentang cerita nya tentang banyak hal. Kedatangannya selalu aku nanti dan membuat jam tidurku tak lagi teratur. SMS nya pun selalu membuat aku cukup untuk menutup hari itu dengan sebuah rasa syukur bahwa aku merasakan bahagia.

Seorang teman menuliskan sebuah kalimat dalam sebuah milis,jika kamu disuruh memilih antara berjalan dengan ketidaktahuan tapi membahagiakanmu dan melangkah dengan pengetahuan tapi mencerahkan serta memberatkanmu, mana yang kamu pilih? Kalimat itu seolah membuatku meraba kembali keputusan yang aku ambil atas hidupku yang sekarang ini. Aku tahu dengan jelas konsekuensinya saat itu. Dalam beberapa hal, secara agama, selalu disebutkan manusia akan selalu diberikan cobaan. Dan hal 'seperti ini', dikatakan sebagai cobaan yang harus kita lalui. Menghindari dan menjauhinya lebih tepatnya. Namun, semakin aku menolak dan berusaha melupakannya, aku semakin tersiksa rindu. Apa yang manusia tahu tentang cobaan dan anugerah? Tuhan memang menciptakan nalar untuk kita berpikir tapi Dia juga menyandingkannya dengan hati. Aku ingat saat itu Desta berkata, "cukup dengarkan hati kecilmu, dan aku akan ikhlas menerima apapun keputusan mu," Aku ingat aku pernah berjanji, dulu, jauh sebelum bertemu dengan Desta, bahwa aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bahagia dengan orang yang aku cintai.

Logika ku, yang menuntunku dengan semua pengetahuan yang mencerahkan memang benar pada akhirnya membuat semuanya terasa lebih berat. Aku memilih berjalan dalam pengetahuan yang memang sengaja aku simpan dan lebih memilih mendengarkan kata hati. Karena perasaan tanpa nama itu tidak akan pernah bisa berjalan seiring sejalan dengan pengetahuan apapun di muka bumi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak dengan baik karena kita adalah manusia yang ber-etika