Banyak teman atau umumnya perempuan ketika di tanya, "seperti apa sosok lelaki yang kamu inginkan untuk menjadi pasanganmu kelak?" serta merta mereka menjawab, yang dewasa, seperti ayah ku. Yang bertanggung jawab seperti ayahku. bla bla bla. Tapi waktu partner tanya ke aku, "Kalo kamu?" Dengan spontan dan tanpa perasaan bersalah aku menjawab, " Yang sifat dan karakternya jauh berbeda dengan Bapak ku."
Aku ini sering kali, bahkan sering aku ungkapkan ke partner, kalau aku ngerasa 'bercermin' saat aku mulai menghadapi bapak ku. Dan semua itu justru membuat aku serasa malas dan justru chemistry nya gak ada sama sekali. Saat seorang laki-laki berani meminang gadis, aku pikir hal yang wajar dan harus kalau dia menjadi lebih bertanggung jawab dan dewasa. Jadi, tidak harus seperti ayah kita saat kita mendambakan sosok lelaki yang ingin di jadikan pasangan hidup.
Kedekatan terlebih karena tinggal serumah mungkin mempengaruhi pola pikir seseorang. Maka itu, aku selalu merasa berjalan di jalan yang benar saat aku memutuskan tinggal terpisah dari orang tua ku. Pemikiran ku jadi lebih terbuka, mandiri, memberanikan diri mengambil segala keputusan untuk karir dan semua yang aku lakukan. Meskipun pandangan miring dan tanggapan negatif ala-ala mencurigai tak jarang mampir ke telinga ku.
Tapi apa mau dikata, aku sudah sangat mengerti apa yang aku inginkan. Sosok seperti ayah, bukan sosok yang aku idamkan untuk menjadi pasangan ku. Maksud aku, di luar tanggung jawab dan kedewasaan seperti yang aku singgung tadi. Dan aku mendapatkan nya. Seorang partner yang sangat aku sayang dengan semua kebaikan dan keburukannya. Dengan semua hal yang telah dan masih membuat aku jatuh cinta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak lagi
BalasHapus