Sekitar setahun yang lalu, perasaan resah itu begitu kuat ku raba. Kegelisahan yang entah apa, selalu tergambar dalam raut wajahnya. Pikirannya sering tak terkoneksi saat kami berbincang dan itupun menjadikan pertengkaran kecil di antara kami. Desta memiliki orang tua yang sangat sepuh, terutama ayahnya. Dia anak perempuan paling bontot (bungsu) dan semua saudaranya telah menikah. Bagi orang tua, pastilah berpikir kewajiban mereka belum tuntas bila tak melihat anak nya menikah. Namun bagi nya, kekasih ku yang sangat ku cinta, itu hal yang sangat belum siap untuk dijalaninya.Baginya, dan juga aku, kami telah berkeluarga. Kami menjalin semuanya dari nol. Berteman, sahabat, saudara, cinta, dan tak ada yang lebih indah dari itu semua. Saling bantu di saat perjuangan menyelesaikan skripsi, saling support saat berjuang mendapatkan pekerjaan, saling menarik saat salah satu di antara kami mulai kehilangan krisis percaya diri, saling memahami dan menunggu rasa rindu itu datang lagi saat salah satu di antara kami mulai out of love. Membangun istana kecil sementara kami di kamar kos yang mungkin luasnya hanya 3x4 Meter. Satu per satu mengisi nya dengan peralatan rumah tangga yang kami butuhkan. Membersihkan rumah, membuatnya berantakan lagi, dan kegiatan yang sangat kami berdua suka, memasak.
Saat ini, aku lah yang berada di masa-masa itu. Masa gamang dan resah atas hubungan ini. Kalau kata armada, "mau di bawa ke mana hubungan ini?" Begitu naif kalau aku harus terus menutup mata dan telinga berpura-pura semua akan baik-baik saja. Sungguh naif pula saat aku berpikir tidak ada keluarga ku yang resah atau curiga atas hubungan ku dengan Desta. Aku sempat merasa binggung saat ibu ku bilang "ya mulai cari cowok yang pates buat dijadiin calon suami". Atau kakek ku yang bilang secara personal " Cepetan nyusul nikah, mumpung mbah masih dikasih umur," Di tambah desakan dari teman dekat di kantor.
Tarik nafas panjang 3 kali pun tak menyelesaikan masalah. Aku binggung, mulai putar otak, dan bahkan aku sampai mengunjungi milis Sepocikopi yang aku ingat pernah membahas masalah "menikah". Desta mungkin tak bisa meraba semuanya dengan jelas. Saat aku mulai membahasnya, "Jangan dipikrkan, biar mengalir saja" dan itu cukup membuatku tenang. Tenang seperti terlelap dalam tidur, tapi bukan melupakannya saat mata kembali terjaga.
Dan sekarang tentu kamu bahagia karena tidak perlu merasa khawatir meski tak ada pengorbanan dan kebersamaan bersamanya
BalasHapus