Social Icons

Selasa, 25 Desember 2012

Choice

Ada quotes yang sering banget kita denger, Life is a Choice. Hidup itu selalu menghadapkan kita dengan berbagai hal yang pada akhirnya mendorong kita untuk mengambil satu keputusan yang dianggap terbaik untuk diri kita. Begitupun dengan yang sekarang ini aku jalani. Tinggal bareng partner meskipun aku dan dia gak tau bisa sampai kapan kayak gini. Mungkin aneh bagi sebagian orang kalau tahu apa yang aku sepakati dengan partner. Kami bersama sekarang, tanpa menuntut satu sama lain untuk terus seperti ini. Kelak saat tiba waktunya bagi kami untuk tidak bersama lagi, kami hanya akan saling melepaskan genggaman itu. Konteksnya di sini berpisah karena salah satu atau kami berdua harus menikah dengan seorang pria, bukan karena perempuan lain. Kami berdua sama-sama tidak bisa saling menjanjikan untuk tidak menikah dengan pria, karena kami tahu itu tidak mungkin. Masalah klise yang dihadapi lesbian indonesia, sayang kami pada orang tua, kultur, tuntutan menjaga nama baik keluarga.

Tindakan naif ku dan partner dengan memperkenalkan partner ke keluarga ku sepertinya bukan ide yang baik dari awal. Tapi apa daya, semua sudah terjadi. Aku sadar, sekarang ini ada kecemasan dalam hati kedua orang tua ku dengan sikap anak bontotnya ini. Tidak pernah membawa laki-laki untuk diperkenalkan sebagai pacar, atau bahkan sesekali bercerita tentang teman cowok yang unyuk sekalipun, yang ada malah akbrab dengan teman perempuan tomboy yang care dan siap jadi pahlawan dimana pun anaknya berada.

Meskipun tidak secara gamblang, jelas bapak ku menaruh curiga yang begitu besar. Bapak juga sesekali menunjukkan sikapnya yang menolak kehadiran Desta. Sampai saat ini aku dan partner masih kekeuh untuk terus jalani ini sampai tiba waktunya kelak kami memang harus berpisah. Dan tentunya itu akan meninggalkan lubang besar dalam hati dan juga hidup kami. Keinginan kami, kami bisa terus bersama selama kami masih saling sayang. Saling support karir masing-masing. Kemandirian finansial harus kami raih kelak meskipun kami sudah tak saling bersama. Itulah yang menjadi pilihan ku dan desta. Sama halnya seperti orang yang mengetahui kapan hari terakhirnya, kami berharap kami selalu bersama dan saling sayang tiap detik sebelum kami saling kehilangan.

1 komentar:

  1. Kalimat terakhir ternyata cuma jadi penghias cerita aja...karna itugak lagi terjadi

    BalasHapus

Silahkan meninggalkan jejak dengan baik karena kita adalah manusia yang ber-etika