Kamis, 20 September 2012
Alergi Desta
Eits, pas baca judulnya jangan dikira si Desta mantan personel band club 80's yach. Ini Desta si endut yang makin lama makin buat aku ilfiil karena tiap hari bangun siang banget. Atau lebih sering keliatan ngupil daripada mijitin aku yang suka pegel gara-gara nyiapin semua kebutuhannya. Kejadiannya malah terkesan parah dan dramatis waktu dia mulai telpon atau Whatsapp aku. Gak tau kenapa, denger suaranya atau baca WA nya langsung deh cuaca jadi mendung banget trus bikin galau akut.
Rabu, 19 September 2012
Habis gelap (belum) terbitlah terang
Slogan yang lekat sekali dengan sosok Ibu RA Kartini itu memang telah mengubah penerimaan masyarakat terhadap peran wanita yang lebih baik. Terbukti, saat ini tak ada lagi larangan mengenyam pendidikan bagi kaum perempuan. Tidak ada lagi larangan untuk bekerja sederajat dengan para laki-laki. Tidak ada lagi comooh atau cibiran atas pendapat para wanita. Bahkan di Indonesia sendiri, telah mengukir sejarah dengan di angkatnya presiden wanita untuk pertama kalinya yaitu Ibu Megawati Soekarno Putri. Meskipun sosoknya masih belum mampu memberikan perubahan besar, namun perlu di akui, bahwa keyakinan dan keberaniannya untuk terus maju sebagai tokoh politik dan menjadi orang nomor 1 di negeri ini menjadi hal yang patut di acungi jempol. Berusaha menyejajarkan hak-hak perempuan dan laki-laki di mata hukum, sosial, maupun ekonomi.Tapi apakah semuanya telah berubah sedemikian rupa? Nampaknya belum sepenuhnya. Tadi malam aku terlibat obrolan singkat dengan seorang teman saat berada di kelas perpajakan. "Jadi, kamu kos? Kan jarak antara rumah kamu dengan kos cuma 1 jam, ngapain musti kos? apa gak rancu kamu kos cuma karena alasan pekerjaan?" tanya nya dengan mengernyitkan dahi sedemikian rupa. Entah apa yang ada dalam pikirannya. I mean, why you look so surprised like that? Am I wrong? Am I a criminal do that? Spontan aku menyambar dengan tetap mengatur nada bicara "Aku kan sambil ngajar privat, jadi gak mungkin aku bolak-balik".
And you know what I feel after said that? Sucks. Hanya karena waktu itu di kelas ada pembahasan soal ujian, aku tak mau menyinggungnya panjang lebar. Sesaat aku merasa begitu menyebalkan. Mengapa responnya seperti itu saat mengetahui aku tidak tinggal bersama keluarga ku dan memilih mandiri, tinggal terpisah, meskipun jarak antara rumah ke kos bisa kutempuh sejam, dan jarak kos ke tempat kerja sekitar setengah jam.
Saat dalam perjalanan pulang, aku berpikir, mungkin istilah habis gelap terbitlah terang itu masih belum sepenuhnya dapat di aplikasi untuk semua hal. Salah satunya seorang perempuan muda yang memilih tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. Hal itu seolah di anggap negatif. Ingin bebas dari orang tua, melakukan banyak hal tanpa dilarang dan sebagainya. Memang benar. Awal aku memutuskan untuk tinggal terpisah adalah aku tipe orang yang tidak betah capek. Harus Bolak-balik berangkat dan pulang kuliah menerobos kemacetan separah itu, buat aku hanya buang-buang energi dan waktu. Jadi, aku putuskan kos. Dan itu berlanjut saat aku bekerja. Enough berpikir kos itu tempatnya hura-hura. NO. Mungkin ada beberapa yang seperti itu, dan imbasnya adalah kita yang tidak melakukannya ini. Tapi apapun itu, setiap orang yang telah memutuskan pilihan hidupnya, apapun itu, baik buruknya adalah tanggung jawab dia. Dan sampai sekarang pun, banyak hal yang selalu aku tuntut dari diriku untuk membuktikan bahwa tak ada yang salah dengan keputusan ku untuk hidup mandiri. Dan aku bertanggung jawab sepenuhnya atas keputusan ku. Dan aku merasa lebih baik dengan tidak membahasnya panjang lebar dengan teman ku tadi. Aku hanya memikirkan keluarga ku setelah kejadian itu. Bukan tidak mungkin mereka juga merasa aneh dan ada yang tidak beres. Jadi aku putuskan, aku hanya akan kembali fokus akan usaha ku memperbaiki karir ku. Tak perlu menghabiskan energi untuk berdebat. Fokus untuk membuktikan kepada keluarga bahwa semua hal yang aku lakukan tidak akan pernah menghancurkan nama baik mereka ataupun membuat mereka sengsara.
Selasa, 18 September 2012
Galau
Sekitar setahun yang lalu, perasaan resah itu begitu kuat ku raba. Kegelisahan yang entah apa, selalu tergambar dalam raut wajahnya. Pikirannya sering tak terkoneksi saat kami berbincang dan itupun menjadikan pertengkaran kecil di antara kami. Desta memiliki orang tua yang sangat sepuh, terutama ayahnya. Dia anak perempuan paling bontot (bungsu) dan semua saudaranya telah menikah. Bagi orang tua, pastilah berpikir kewajiban mereka belum tuntas bila tak melihat anak nya menikah. Namun bagi nya, kekasih ku yang sangat ku cinta, itu hal yang sangat belum siap untuk dijalaninya.Baginya, dan juga aku, kami telah berkeluarga. Kami menjalin semuanya dari nol. Berteman, sahabat, saudara, cinta, dan tak ada yang lebih indah dari itu semua. Saling bantu di saat perjuangan menyelesaikan skripsi, saling support saat berjuang mendapatkan pekerjaan, saling menarik saat salah satu di antara kami mulai kehilangan krisis percaya diri, saling memahami dan menunggu rasa rindu itu datang lagi saat salah satu di antara kami mulai out of love. Membangun istana kecil sementara kami di kamar kos yang mungkin luasnya hanya 3x4 Meter. Satu per satu mengisi nya dengan peralatan rumah tangga yang kami butuhkan. Membersihkan rumah, membuatnya berantakan lagi, dan kegiatan yang sangat kami berdua suka, memasak.
Saat ini, aku lah yang berada di masa-masa itu. Masa gamang dan resah atas hubungan ini. Kalau kata armada, "mau di bawa ke mana hubungan ini?" Begitu naif kalau aku harus terus menutup mata dan telinga berpura-pura semua akan baik-baik saja. Sungguh naif pula saat aku berpikir tidak ada keluarga ku yang resah atau curiga atas hubungan ku dengan Desta. Aku sempat merasa binggung saat ibu ku bilang "ya mulai cari cowok yang pates buat dijadiin calon suami". Atau kakek ku yang bilang secara personal " Cepetan nyusul nikah, mumpung mbah masih dikasih umur," Di tambah desakan dari teman dekat di kantor.
Tarik nafas panjang 3 kali pun tak menyelesaikan masalah. Aku binggung, mulai putar otak, dan bahkan aku sampai mengunjungi milis Sepocikopi yang aku ingat pernah membahas masalah "menikah". Desta mungkin tak bisa meraba semuanya dengan jelas. Saat aku mulai membahasnya, "Jangan dipikrkan, biar mengalir saja" dan itu cukup membuatku tenang. Tenang seperti terlelap dalam tidur, tapi bukan melupakannya saat mata kembali terjaga.
Senin, 17 September 2012
Dream
Tidak ada manusia yang tidak memiliki impian bahkan sesederhana ingin memiliki sepeda atau bisa bersekolah di sekolah yang layak dengan sarana dan prasarana yang memadai. Begitupun dengan teman-teman di luar sana yang saat ini sedang menjalin hubungan yang jauh dengan kekasih memiliki impian kelak akan dapat tinggal bersama. Atau mungkin bagi teman-teman yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikannya pasti memiliki impian kelak akan lulus dengan baik dan secepatnya dapat berkerja. Memiliki impian itu sangat mudah untuk dilakukan karena tidak memerlukan banyak tenaga dan juga materi alias gratis euy. Kita hanya perlu benar-benar tahu apa yang kita ingin kan dan menjadikannya impian terbesar kita. Tapi semuanya tak berhenti dengan sekedar bermimpi, bukan? Impian itu hanya akan menjadi impian semata kalau kita tidak melakukan apapun untuk mendekati dan meraih impian itu.
Ada beberapa orang yang berkata terkadang impian nya suka berubah-ubah. Aku juga sampai sekarang masih kok mengalami hal serupa. Dan saat aku telaah lagi, sebenarnya itu justru yang menjauhkan ku dari keberhasilan. Bagaimana tidak, Impian itu seharusnya merupakan hal yang paling, amat, dan sangat kita inginkan untuk terwujud dan berusaha untuk meraihnya, bukan hanya kita bayangkan, lalu kita biarkan begitu saja dan menguap bersama udara. Hanya kita lah yang tahu apa impian kita dan bagaimana kita harus membuat tangga untuk mencapai puncaknya. Tahu dan mengerti dengan jelas apa yang kamu inginkan, that's your dream..
Takut? Apa benar ada yang merasa takut untuk memimpikan sesuatu? Hal buruk yang kita pikirkan hanya akan menahan langkah kita untuk keluar dari keadaan yang sama setiap harinya. Berhenti untuk berpikir "tidak mungin". Berhenti untuk merasa takut dan membatasi diri. Kenapa tidak mencoba untuk menuliskan impian mu di buku harian? di sertai dengan langkah-langkah kongkret yang pasti dan harus bisa kamu capai? Hanya kita (dan bantuan Allah) yang bisa membuat impian itu terwujud bahkan saat seisi dunia menertawai impianmu itu. Tapi itu masih lebih baik daripada tidak berani bermimpi, bukan?
Ada beberapa orang yang berkata terkadang impian nya suka berubah-ubah. Aku juga sampai sekarang masih kok mengalami hal serupa. Dan saat aku telaah lagi, sebenarnya itu justru yang menjauhkan ku dari keberhasilan. Bagaimana tidak, Impian itu seharusnya merupakan hal yang paling, amat, dan sangat kita inginkan untuk terwujud dan berusaha untuk meraihnya, bukan hanya kita bayangkan, lalu kita biarkan begitu saja dan menguap bersama udara. Hanya kita lah yang tahu apa impian kita dan bagaimana kita harus membuat tangga untuk mencapai puncaknya. Tahu dan mengerti dengan jelas apa yang kamu inginkan, that's your dream..
Takut? Apa benar ada yang merasa takut untuk memimpikan sesuatu? Hal buruk yang kita pikirkan hanya akan menahan langkah kita untuk keluar dari keadaan yang sama setiap harinya. Berhenti untuk berpikir "tidak mungin". Berhenti untuk merasa takut dan membatasi diri. Kenapa tidak mencoba untuk menuliskan impian mu di buku harian? di sertai dengan langkah-langkah kongkret yang pasti dan harus bisa kamu capai? Hanya kita (dan bantuan Allah) yang bisa membuat impian itu terwujud bahkan saat seisi dunia menertawai impianmu itu. Tapi itu masih lebih baik daripada tidak berani bermimpi, bukan?
Jumat, 14 September 2012
Role in Relationship
Berbicara tentang peran, dari kecil pun setiap individu secara sadar maupun tidak telah menjalankan perannya masing-masing. Mulai dari peran sebagai seorang anak, siswa, teman, hingga saat dewasa seperti peran sebagai ibu, pekerja dan seterusnya. Begitupun ketika memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seseorang, kita juga harus dapat menjalankan peran kita dengan baik.
Banyak orang di luar sana yang membuat kesimpulan bahwa dalam hubungan lesbian itu ada yang berperan sebagai laki-laki dan perempuan. Bisa dikatakan konsep hetero normatif itu begitu melekat pada pikiran ku. Aku sendiri yang telah living together bareng partner selama hampir 6 tahun pun mengaku kami menjalankan konsep yang hetero normatif tadi. Jauh sebelum bertemu dengan partner, saya selalu menjalankan kegiatan seperti layaknya perempuan kebanyakan yaitu all about home yach gak jauh-jauh dari tugas nya ibu rumah tangga lah seperti mencuci baju, bersih-bersih rumah, dan memasak. Bertemu dengan Desta yang "berantakan" bukan merupakan bencana besar bagi saya. Sebaliknya, desta sendiri punya kebiasaan lebih suka membetulkan peralatan yang rusak, mengerti mesin, hardware dan software PC, dan banyak hal pekerjaan laki-laki lain nya.
Buat saya pribadi, saat kedua kebiasaan itu dibawa ke dalam hubungan yang lebih serius yaitu tinggal bersama, kedua nya merupakan ramuan yang saling melengkapi. Kalau orang jawa bilang "Tutup ketemu Tumbu". Tidak ada yang harus mengubah kebiasaan atau kesenangan masing-masing dalam mengerjakan tugas. Dan hal itu pun juga tidak lantas membatasi untuk pasangan juga turut membantu bila pasangan lain memerlukan bantuan. Aku misalnya, kadang tidak sempat memasak nasi desta yang memasakkan nasi. Peran itu harus di jalankan, tapi hal itu semata-mata untuk saling menjaga agar tidak timbul hal-hal kecil yang dapat memicu permasalahan.
Aku pribadi selalu mengusahakan memasak. Bukan hanya perkara hemat dalam pengeluaran, tapi mencukupi kebutuhan gizi dan pangan itu sangat penting. Pekerjaan Desta yang cukup menyita banyak waktu selalu memicu aku untuk menyiapkan sendiri makanan yang dapat jelas aku pantau kebersihannya, menu kesukaannya, dan juga jam makannya karena alasan sakit maag desta yang cukup parah.
Peran di dalam sebuah hubungan juga bukan melulu masalah pembagian tugas saja. Sebagai pasangan yang baik, aku selalu mencoba mengerti dan memberinya ruang gerak untuk menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman nya. Sesekali hang out hingga tengah malam dan outing bersama. Begitupun dengannya yang selalu mengerti aku harus pulang tiap 1 kali seminggu. Aku yakin, saling pengertian seperti itu tidak akan mengurangi rasa sayang. Justru, saling pengertian seperti itu yang membuat pasangan kita nyaman.
Banyak orang di luar sana yang membuat kesimpulan bahwa dalam hubungan lesbian itu ada yang berperan sebagai laki-laki dan perempuan. Bisa dikatakan konsep hetero normatif itu begitu melekat pada pikiran ku. Aku sendiri yang telah living together bareng partner selama hampir 6 tahun pun mengaku kami menjalankan konsep yang hetero normatif tadi. Jauh sebelum bertemu dengan partner, saya selalu menjalankan kegiatan seperti layaknya perempuan kebanyakan yaitu all about home yach gak jauh-jauh dari tugas nya ibu rumah tangga lah seperti mencuci baju, bersih-bersih rumah, dan memasak. Bertemu dengan Desta yang "berantakan" bukan merupakan bencana besar bagi saya. Sebaliknya, desta sendiri punya kebiasaan lebih suka membetulkan peralatan yang rusak, mengerti mesin, hardware dan software PC, dan banyak hal pekerjaan laki-laki lain nya.
Buat saya pribadi, saat kedua kebiasaan itu dibawa ke dalam hubungan yang lebih serius yaitu tinggal bersama, kedua nya merupakan ramuan yang saling melengkapi. Kalau orang jawa bilang "Tutup ketemu Tumbu". Tidak ada yang harus mengubah kebiasaan atau kesenangan masing-masing dalam mengerjakan tugas. Dan hal itu pun juga tidak lantas membatasi untuk pasangan juga turut membantu bila pasangan lain memerlukan bantuan. Aku misalnya, kadang tidak sempat memasak nasi desta yang memasakkan nasi. Peran itu harus di jalankan, tapi hal itu semata-mata untuk saling menjaga agar tidak timbul hal-hal kecil yang dapat memicu permasalahan.
Aku pribadi selalu mengusahakan memasak. Bukan hanya perkara hemat dalam pengeluaran, tapi mencukupi kebutuhan gizi dan pangan itu sangat penting. Pekerjaan Desta yang cukup menyita banyak waktu selalu memicu aku untuk menyiapkan sendiri makanan yang dapat jelas aku pantau kebersihannya, menu kesukaannya, dan juga jam makannya karena alasan sakit maag desta yang cukup parah.
Peran di dalam sebuah hubungan juga bukan melulu masalah pembagian tugas saja. Sebagai pasangan yang baik, aku selalu mencoba mengerti dan memberinya ruang gerak untuk menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman nya. Sesekali hang out hingga tengah malam dan outing bersama. Begitupun dengannya yang selalu mengerti aku harus pulang tiap 1 kali seminggu. Aku yakin, saling pengertian seperti itu tidak akan mengurangi rasa sayang. Justru, saling pengertian seperti itu yang membuat pasangan kita nyaman.
Tersesat
Masih ingatkah kalian akan tulisan ku beberapa hari lalu berjudul Tak Disangka ? itu loh, yang aku cerita dengan antusias tentang kekagumanku sama partner-teman ku yang orang nya sederhana dan bisa dibilang "mau di ajak susah" itu. Anyway mereka sekarang udah pisah memang. Tapi aku cukup tercengang saat membaca Picture Display dalam WhatsApp nya, begini lengkap nya:
TUHAN,
Berilah aku kekuatan, di setiap langkahku
Berilah aku ketegaran, di setiap dukaku
Berilah hikmah, di setiap masalah ku
Berilah kedamaian, di setiap resahku
Tuntunlah selalu aku ke Jalan Mu
Jangan biarkan Aku
TERSESAT lagi......
Aku terkejut dengan kata terakhirnya. Tersesat? siapa yang menyesatkan siapa? Hm, flashback ke belakang. Dulu memang awalnya partner-teman ku itu seorang heteroseksual. Menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tapi, akhirnya dia memutuskan untuk menjalani hubungan dengan teman ku yang penampilannya sangat maskulin. Dan sekarang mereka putus karena partner-teman ku itu lebih memilih untuk bersanding dengan seorang laki-laki. Apapun pilihannya aku selalu menekankan dan berkali-kali ku sampaikan yang penting kamu bahagia. Saat dia memutuskan menjalin hubungan dengan teman ku, aku dan desta menyambutnya dengan tangan terbuka. Begitupun sekarang saat ia telah tak bersama dengan teman ku. Bagi kami, teman bukan hanya yang senasib sepenanggungan saja, tapi yang mengerti perasaan temannya dan membiarkannya menjalani apa yang membuatnya bahagia.
Tapi ada ganjalan, mungkin bisa dibilang kecewa. Mengapa dia harus menganggap apa yang telah terjadi padanya adalah sesuatu yang sesat. Meskipun dia tak menjelaskannya secara jujur, tapi pasti jati dirinya sebagai lesbian lah yang dimaksud dengan "Tersesat". Buat aku pribadi, kata itu dan konteksnya merupakan kekerasan verbal. Bagaimanapun, dia adalah perempuan dewasa yang mampu berpikir dan mengambil keputusan saat itu saat memutuskan untuk menjalin hubungan dengan perempuan. Tapi saat dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, mengapa harus ada ungkapan seperti itu. Ungkapan yang memperlihatkan bahwa justru dirinya melempar tanggung jawabnya ke muka orang lain. Ungkapan yang memperlihatkan bahwa dirinya sangat tidak dewasa.
Salah kalau ada anggapan lesbian itu manusia paling lemah dan perasaannya lebay mudah tersinggung. Coba pikirkan, di kalangan hetero pun, saat seseorang memutuskan hubungan yang telah lama dijalin dan mengungkapkan bahwa selama ini dia "tersesat", pastilah juga mengalami kekecewaan yang sama. Merasa tidak dihargai baik sebagai pasangan maupun manusia yang memiliki hati nurani.
Hmm (menarik nafas panjang)....Untuk Note aja yach, aku disini bukan ingin mengajak untuk membenci teman-teman hetero, tapi justru tugas kita semua untuk tetap rendah hati agar paling tidak kalaupun logika tak lagi berjalan, hati nurani dan ketulusan kita terhadap sesama manusia dapat teraba oleh mereka yang menganggap negatif label Lesbian.
Met melanjutkan aktivitas lagi ya
TUHAN,
Berilah aku kekuatan, di setiap langkahku
Berilah aku ketegaran, di setiap dukaku
Berilah hikmah, di setiap masalah ku
Berilah kedamaian, di setiap resahku
Tuntunlah selalu aku ke Jalan Mu
Jangan biarkan Aku
TERSESAT lagi......
Aku terkejut dengan kata terakhirnya. Tersesat? siapa yang menyesatkan siapa? Hm, flashback ke belakang. Dulu memang awalnya partner-teman ku itu seorang heteroseksual. Menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tapi, akhirnya dia memutuskan untuk menjalani hubungan dengan teman ku yang penampilannya sangat maskulin. Dan sekarang mereka putus karena partner-teman ku itu lebih memilih untuk bersanding dengan seorang laki-laki. Apapun pilihannya aku selalu menekankan dan berkali-kali ku sampaikan yang penting kamu bahagia. Saat dia memutuskan menjalin hubungan dengan teman ku, aku dan desta menyambutnya dengan tangan terbuka. Begitupun sekarang saat ia telah tak bersama dengan teman ku. Bagi kami, teman bukan hanya yang senasib sepenanggungan saja, tapi yang mengerti perasaan temannya dan membiarkannya menjalani apa yang membuatnya bahagia.
Tapi ada ganjalan, mungkin bisa dibilang kecewa. Mengapa dia harus menganggap apa yang telah terjadi padanya adalah sesuatu yang sesat. Meskipun dia tak menjelaskannya secara jujur, tapi pasti jati dirinya sebagai lesbian lah yang dimaksud dengan "Tersesat". Buat aku pribadi, kata itu dan konteksnya merupakan kekerasan verbal. Bagaimanapun, dia adalah perempuan dewasa yang mampu berpikir dan mengambil keputusan saat itu saat memutuskan untuk menjalin hubungan dengan perempuan. Tapi saat dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, mengapa harus ada ungkapan seperti itu. Ungkapan yang memperlihatkan bahwa justru dirinya melempar tanggung jawabnya ke muka orang lain. Ungkapan yang memperlihatkan bahwa dirinya sangat tidak dewasa.
Salah kalau ada anggapan lesbian itu manusia paling lemah dan perasaannya lebay mudah tersinggung. Coba pikirkan, di kalangan hetero pun, saat seseorang memutuskan hubungan yang telah lama dijalin dan mengungkapkan bahwa selama ini dia "tersesat", pastilah juga mengalami kekecewaan yang sama. Merasa tidak dihargai baik sebagai pasangan maupun manusia yang memiliki hati nurani.
Hmm (menarik nafas panjang)....Untuk Note aja yach, aku disini bukan ingin mengajak untuk membenci teman-teman hetero, tapi justru tugas kita semua untuk tetap rendah hati agar paling tidak kalaupun logika tak lagi berjalan, hati nurani dan ketulusan kita terhadap sesama manusia dapat teraba oleh mereka yang menganggap negatif label Lesbian.
Met melanjutkan aktivitas lagi ya
Kamis, 13 September 2012
No Much Time
Pagi all,,,ijinkan aku membuka pagi ini dengan doa semoga kita semua selalu diberi kesehatan, di mudahkan rejeki dan di lingkupi selalu dengan bahagia dengan orang yang kita cintai. Bicara soal rejeki, pastinya tidak cukup hanya dengan berdoa. Doa itu seperti memohon restu dan meminta diberikan kelancaran. Tapi untuk menjemput rejeki itu, kita tetap harus berjuang, berusaha bahkan sampai mata terkantuk dan raga terasa letih. Terutama bagi seorang lesbian. Menyiapkan kemandirian finansial itu harus dimulai dari sekarang. Ya, sekarang. No much time for us. Udah gak ada banyak waktu. Kejar prestasimu, karir mu, rejeki mu seolah kamu akan kehabisan waktumu esok hari.
Tenang dulu, baru di awal paragraf sepertinya sudah mulai panas ya. Gimana enggak, aku begitu menggebu-gebu karena setiap aku membaca artikel dari Sepocikopi, aku merasa di bukakan mata dan wawasan ku setiap hari nya. Intinya sih, dalam setiap artikelnya, Sepocikopi selalu mendoktrin kita bahwa kita sangat layak dan harus bisa menjalani hidup bahagia apapun orientasi seksual kita, menghargai diri sendiri dengan tidak mengutuk apalagi menjauhkan diri dari pergaulan disekitar kita, dan satu hal yang paling penting adalah sama sekali bukan alasan untuk kita menjauh dari Tuhan. Kita juga harus berkarya, santun, berintektual tinggi, dan pasti nya meraih kemandirian finansial kita sendiri.
Oke, aku bahas satu per satu yach. "Hidup bahagia apapun orientasi seksual kita" itu konteks nya pada penerimaan diri sendiri dan yang lebih penting kita juga memahami bahwa kondisi seperti kita di masyarakat dan keluarga kita saat ini adalah bukan hal yang mudah untuk dipahami. Menjadi suatu keharusan bagi kita untuk memahami hal itu, akan membuat kita kelak tidak bertindak sesuatu yang malah membuat kita atau label Lesbian (khususnya), menjadi semakin dibenci masyarakat. Toh bahagia yang hakiki itu saya yakin tidak dibangun di atas penderitaan dan kekecewaan orang lain. Hm, maksud saya disini secara frontal dan tanpa persiapan matang mengaku kepada keluarga bahwa kita Lesbian. NO!
Buat aku dan pasangan, cinta kami pada orang tua begitu besar bahkan kalaupun suatu saat kami harus memilih, kami masing-masing sepakat untuk lebih membahagiakan kedua orang tua kami. Eits, jangan buru-buru diartikan kami akan menikah. Meskipun kami sendiri tidak tahu kemana muaranya kelak, kami yakin banyak hal yang bisa membuat orang tua kita bahagia dan bangga selain sebuah pernikahan. Dan saat ini kami berdua sedang mengupayakan hal itu.
Ya, bener banget. Kemandirian finansial. pekerjaan yang mapan maupun komitmen kami berdua di mata kedua orang tua kami masing-masing untuk mandiri menjadi tujuan utama kami saat ini. Dan kami merasa lebih bahagia dengan menjalani ini semua. Bagi kami, tak perlu kedua orang tua kami tahu kenapa anak gadisnya sampai saat ini tak kunjung membicarakan pernikahan. Tapi kami secara perlahan sengaja mengubah mindset kedua orang tua kami, "bahkan saat kami tak menikah pun kami bisa survive". Yach, meskipun jalannya masih panjang karena aku yakin orang tua mana pun akan lebih nyaman melihat anak gadisnya menikah. That's way, aku bilang di awal kita tidak punya banyak waktu. Kita tidak punya banyak waktu buat memikirkan hal yang tidak penting atau aktif dalam komunitas yang juga tidak memberikan dampak positif apapun hanya demi tidak ingin di katakan tidak peduli dengan teman-teman yang memiliki nasib yang sama.
So ladies, ayo siapak energi mu hari ini, kejar mimpi mu, buang segala pikiran negatif yang mungkin akan membuat mud kamu menguap. Kita layak dan pasti bisa kok mencapai semua nya baik perlahan maupun cepat. Kita ketemu di puncak yang sama yach...
Tenang dulu, baru di awal paragraf sepertinya sudah mulai panas ya. Gimana enggak, aku begitu menggebu-gebu karena setiap aku membaca artikel dari Sepocikopi, aku merasa di bukakan mata dan wawasan ku setiap hari nya. Intinya sih, dalam setiap artikelnya, Sepocikopi selalu mendoktrin kita bahwa kita sangat layak dan harus bisa menjalani hidup bahagia apapun orientasi seksual kita, menghargai diri sendiri dengan tidak mengutuk apalagi menjauhkan diri dari pergaulan disekitar kita, dan satu hal yang paling penting adalah sama sekali bukan alasan untuk kita menjauh dari Tuhan. Kita juga harus berkarya, santun, berintektual tinggi, dan pasti nya meraih kemandirian finansial kita sendiri.
Oke, aku bahas satu per satu yach. "Hidup bahagia apapun orientasi seksual kita" itu konteks nya pada penerimaan diri sendiri dan yang lebih penting kita juga memahami bahwa kondisi seperti kita di masyarakat dan keluarga kita saat ini adalah bukan hal yang mudah untuk dipahami. Menjadi suatu keharusan bagi kita untuk memahami hal itu, akan membuat kita kelak tidak bertindak sesuatu yang malah membuat kita atau label Lesbian (khususnya), menjadi semakin dibenci masyarakat. Toh bahagia yang hakiki itu saya yakin tidak dibangun di atas penderitaan dan kekecewaan orang lain. Hm, maksud saya disini secara frontal dan tanpa persiapan matang mengaku kepada keluarga bahwa kita Lesbian. NO!
Buat aku dan pasangan, cinta kami pada orang tua begitu besar bahkan kalaupun suatu saat kami harus memilih, kami masing-masing sepakat untuk lebih membahagiakan kedua orang tua kami. Eits, jangan buru-buru diartikan kami akan menikah. Meskipun kami sendiri tidak tahu kemana muaranya kelak, kami yakin banyak hal yang bisa membuat orang tua kita bahagia dan bangga selain sebuah pernikahan. Dan saat ini kami berdua sedang mengupayakan hal itu.
Ya, bener banget. Kemandirian finansial. pekerjaan yang mapan maupun komitmen kami berdua di mata kedua orang tua kami masing-masing untuk mandiri menjadi tujuan utama kami saat ini. Dan kami merasa lebih bahagia dengan menjalani ini semua. Bagi kami, tak perlu kedua orang tua kami tahu kenapa anak gadisnya sampai saat ini tak kunjung membicarakan pernikahan. Tapi kami secara perlahan sengaja mengubah mindset kedua orang tua kami, "bahkan saat kami tak menikah pun kami bisa survive". Yach, meskipun jalannya masih panjang karena aku yakin orang tua mana pun akan lebih nyaman melihat anak gadisnya menikah. That's way, aku bilang di awal kita tidak punya banyak waktu. Kita tidak punya banyak waktu buat memikirkan hal yang tidak penting atau aktif dalam komunitas yang juga tidak memberikan dampak positif apapun hanya demi tidak ingin di katakan tidak peduli dengan teman-teman yang memiliki nasib yang sama.
So ladies, ayo siapak energi mu hari ini, kejar mimpi mu, buang segala pikiran negatif yang mungkin akan membuat mud kamu menguap. Kita layak dan pasti bisa kok mencapai semua nya baik perlahan maupun cepat. Kita ketemu di puncak yang sama yach...
Rabu, 05 September 2012
Refleksi
Menurut Wikipedia, Kesadaran adalah kesadaran akan perbuatan. Sadar artinya merasa,
tau atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat akan
dirinya, ingat kembali (dari pingsannya), siuman, bangun (dari tidur)
ingat, tau dan mengerti, misalnya , rakyat telah sadar akan politik.
Kesadaran merupakan suatu yang dimiliki oleh manusia dan tidak ada pada
ciptaan Tuhan yang lain. Kesadara yang dimiliki oleh manusia
merupakan bentuk unik dimana ia dapat menempatkan diri manusia sesuai
dengan yang diyakininya.
Refleksi merupakan bentuk dari penggungkapan
kesadaran, dimana ia dapat memberikan atau bertahan dalam situasi dan
kondisi tertentu dalam lingkungan. Setiap teori yang dihasilkan oleh
seorang merupakan refleksi tetang realitas dan manusia. Manusia dalam
melahirkan cinta untuk semua merupakan jawaban untuk eksistensi manusia
yang membutuhkan rasa dan sayang dari yang lain. Begitupula, tetang
kesadaran merupakan sangat berkaitan dengan manusia bahkan yang
membedakan manusia dengan binatang.
Kalau merujuk pada refleksi secara harfiah di atas, berarti kegiatan refleksi itu sebenarnya sesekali perlu loh buat setiap orang. Yah, tapi terkadang kita terlalu sibuk untuk hal-hal seperti itu. Pasti deh, mending hang out aja deh ke Mall daripada galau mikirin refleksi diri sendiri. hehehe.
Hm, tapi kalau di coba boleh juga sih. Mulai dari depan ya alias fisik. Yach, secara garis besar, aku ini cukup oke. Berat badan 45kg, tinggi 152, cukup ideal lah. Sintal alias agak bantet gitu, hanya kekurangannya di bagian perut yang mulai endut. Hm, tapi masih dalam batas wajar dengan predikat ngegemesin. Tapi sayang nya kulit muka ku tergolong sangat riskan. Mudah berjerawat dan timbul flek hitam. Memang sih, udah amat sangat lebih baik dari waktu SMA. Asal aku rajin bersihkan muka dan jaga makanan, masih terkontrol.
Untuk sifat, aku ini manja, seenaknya sendiri dan pastinya agak susah buat ditegur. Jelek banget ya? iya memang. Hm, ditambah lagi aku tuh mudah tersinggung, nah lengkap banget kan sifat buruknya? Kalau kamu pikir aku menulis semua ini dengan mudah, mungkin untuk sekarang iya. Tapi aku butuh waktu cukup lama untuk mengakui bahwa ternyata memang aku memiliki sifat-sifat buruk itu. Beruntung, ada Desta yang jadi satu-satunya orang yang selalu bisa ingetin aku.
Oke, refleksi nya nyambung lagi next time yach
Untuk sifat, aku ini manja, seenaknya sendiri dan pastinya agak susah buat ditegur. Jelek banget ya? iya memang. Hm, ditambah lagi aku tuh mudah tersinggung, nah lengkap banget kan sifat buruknya? Kalau kamu pikir aku menulis semua ini dengan mudah, mungkin untuk sekarang iya. Tapi aku butuh waktu cukup lama untuk mengakui bahwa ternyata memang aku memiliki sifat-sifat buruk itu. Beruntung, ada Desta yang jadi satu-satunya orang yang selalu bisa ingetin aku.
Oke, refleksi nya nyambung lagi next time yach
Tak Di Sangka
Hai kumbang-kumbang di luar sana. Belalang dan semut-semut penyuka bunga matahari. Hari ini aku kaget banget. alkisah, aku dan partner punya teman yang lumayan deket. Hm, ya gak deket buanget sih. Tapi aku dan partner tuh ngerasa cocok sama dia. Orangnya lucu, sedikit bloon, trus penakut. Pokoknya gak sinkron banget deh sama penampilannya yang Butchy.
Aku sama partner juga prihatin sama keadaannya. Dia berasal dari keluarga broken home. Dari kecil dia tinggal sama ayahnya sedangkan ibu nya memilih pulang ke kampung halamannya. Tapi, beberapa bulan yang lalu, dia ditinggal sendiri oleh ayahnya lantaran penyakit yang cukup parah. beruntung saat itu dia punya partner yang selalu nemenin dia.
Aku dan Desta (partner) belum lama ini ke rumah nya yang dulu adalah rumah ayahnya. Kami sempat ngobrol dan becanda bareng, bahkan sholat berjama'ah. Saat itu, kami lihat kondisi rumahnya yang ternyata sangat tidak nyaman. Dindingnya hanya berbatu kapur tanpa di tutup semen seluruhnya, atap rumahnya pun hanya genteng tanpa plafon dan penutup di tiap sudut-sudut nya. Udara dingin di dalam rumah pun seperti tak terbendung oleh bangunan seperti lazimnya saat kita di dalam rumah. Begitupun dengan nyamuk yang menyergap hampir seluruh badan.
Tapi di tempat yang menurut aku dan Desta sangat tidak nyaman itu, aku melihat senyum tulus dari wajah mereka berdua (teman ku dan partnernya). Mereka tampak biasa saja bahkan bisa dibilang nyaman banget berada di rumah yang seperti itu. Kalaupun itu hanya usaha untuk menutupi ketidaknyamanan mereka, aku pikir itu berhasil banget. Aku dan Desta sampai tak bisa membayangkan bagaimana kalau kami yang harus tinggal di tempat seperti itu. Terutama aku yang langsung minta rumahnya di bongkar atau paling tidak, di bagian kamar aku buat tempat yang paling nyaman untuk ditempati.
Anyway, sore ini aku dengar kabar mereka pisah. padahal aku sempet berulang-ulang memuji partner temen ku karena dia cewek yang tangguh banget bisa di ajak susah sampe kayak gitu. Kalo di inget-inget lagi, hubungan ku sama Desta yang udah hampir 6 tahun ini bukan gak pake perang dunia lho. Kalau bukan karena aku yang mudah luluh melihat kesungguhan Desta, dan kalau bukan karena Desta yang bisa banget bersabar dan meyakinkan aku akan banyak hal, mungkin kita udah pisah dari 2 bulan kita jadian dulu.
I love u Desta....Destania Artafreya
Aku sama partner juga prihatin sama keadaannya. Dia berasal dari keluarga broken home. Dari kecil dia tinggal sama ayahnya sedangkan ibu nya memilih pulang ke kampung halamannya. Tapi, beberapa bulan yang lalu, dia ditinggal sendiri oleh ayahnya lantaran penyakit yang cukup parah. beruntung saat itu dia punya partner yang selalu nemenin dia.
Aku dan Desta (partner) belum lama ini ke rumah nya yang dulu adalah rumah ayahnya. Kami sempat ngobrol dan becanda bareng, bahkan sholat berjama'ah. Saat itu, kami lihat kondisi rumahnya yang ternyata sangat tidak nyaman. Dindingnya hanya berbatu kapur tanpa di tutup semen seluruhnya, atap rumahnya pun hanya genteng tanpa plafon dan penutup di tiap sudut-sudut nya. Udara dingin di dalam rumah pun seperti tak terbendung oleh bangunan seperti lazimnya saat kita di dalam rumah. Begitupun dengan nyamuk yang menyergap hampir seluruh badan.
Tapi di tempat yang menurut aku dan Desta sangat tidak nyaman itu, aku melihat senyum tulus dari wajah mereka berdua (teman ku dan partnernya). Mereka tampak biasa saja bahkan bisa dibilang nyaman banget berada di rumah yang seperti itu. Kalaupun itu hanya usaha untuk menutupi ketidaknyamanan mereka, aku pikir itu berhasil banget. Aku dan Desta sampai tak bisa membayangkan bagaimana kalau kami yang harus tinggal di tempat seperti itu. Terutama aku yang langsung minta rumahnya di bongkar atau paling tidak, di bagian kamar aku buat tempat yang paling nyaman untuk ditempati.
Anyway, sore ini aku dengar kabar mereka pisah. padahal aku sempet berulang-ulang memuji partner temen ku karena dia cewek yang tangguh banget bisa di ajak susah sampe kayak gitu. Kalo di inget-inget lagi, hubungan ku sama Desta yang udah hampir 6 tahun ini bukan gak pake perang dunia lho. Kalau bukan karena aku yang mudah luluh melihat kesungguhan Desta, dan kalau bukan karena Desta yang bisa banget bersabar dan meyakinkan aku akan banyak hal, mungkin kita udah pisah dari 2 bulan kita jadian dulu.
I love u Desta....Destania Artafreya
Langganan:
Komentar (Atom)
