Bibir ku seketika
tak mampu terbuka meskipun banyak hal yang awalnya ingin aku luapkan. Semakin aku
mencoba rasanya semakin bibir ini tertutup rapat. Carut marut masalah yang ada
di pikiran ku nyatanya tak mampu membulatkan tekad untuk menceritakan semuanya
pada pasangan ku. Aku tak tahu apa itu. Tapi seketika aku berpikir ada pembatas
yang tak kasat mata yang tiba-tiba muncul di antara aku dan Desta.
Dihempaskannya
badan yang letih itu ke peraduan. Diraihnya telepon genggam dan mulai lah
aktivitas rutinnya mengecek semua notifikasi yang terlewat selama jam kerja, tanpa
menghiraukan aku yang ada di sebelahnya bergelut dengan pikiran yang carut
marut.
“ Give me 1 nice
smile,please!” ucapnya seketika. Smile? How can I? Aku tidak dalam kondisi yang
memungkinkan untuk mengurai senyum. Dia menghampiri ku dan mengurai senyum yang
sengaja di tunjukkannya persis di depan ku pertanda dia ingin aku menirukannya.
Terbentuklah sebuah senyum yang dipaksakan karena mencoba membuatnya senang dan
tak lagi khawatir. “Senyum dong, yang lebar” desaknya. Aish, aku jadi tambah
stress.
Aku teringat
perdebatan kami beberapa waktu lalu. Tentang keinginannya dan keinginan ku yang
sudah tak lagi sejalan. Tentang bagaimana bentuk perhatian yang ideal yang
ingin kami terima satu sama lain. Ada hal yang menurutnya pantas dia lakukan
untuk membuat aku merasa lebih bahagia tapi ternyata bukan itu yang aku mau. Banyak
hal yang sudah dia lakukan yang belum bisa aku terima dengan baik. Perdebatan
yang tak menghasilkan solusi apapun yang di putuskan nya untuk di akhiri cukup
sampai hari itu saja. Karena perdebatan itulah aku jadi mengambil beberapa
kesimpulan ku sendiri dan berakhir seperti ini. Ya, seperti malam ini, berpikir
100 kali saat akan memulai membicarakan masalah yang sama. Pembatas itu adalah
ego. Pembatas itu adalah harga diri yang entah seberapa tinggi dan tebalnya.
Dear my woman, aku ingin menjadikan mu Ratu yang bernaung di tempat yang paling tinggi. Tunggulah dan jangan merisaukan apa-apa.
Dear my lovely, saat aku berdoa pada Tuhan pun, aku sedikit meminta di beri kemudahan. Sebaliknya, aku meminta diberi kekuatan agar aku bisa melalui segala cobaan yang sedang aku terima dari Nya. Begitu pun pada mu. Yang aku butuhkan bukan kamu jadikan aku Ratu yang tidak berguna dalam hidupnya sendiri. Tapi jadikan aku Ratu yang pantas untuk kau dudukkan di tempat tertinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan meninggalkan jejak dengan baik karena kita adalah manusia yang ber-etika