Social Icons

Kamis, 11 September 2014

Pembatas Tak Kasat Mata



Bibir ku seketika tak mampu terbuka meskipun banyak hal yang awalnya ingin aku luapkan. Semakin aku mencoba rasanya semakin bibir ini tertutup rapat. Carut marut masalah yang ada di pikiran ku nyatanya tak mampu membulatkan tekad untuk menceritakan semuanya pada pasangan ku. Aku tak tahu apa itu. Tapi seketika aku berpikir ada pembatas yang tak kasat mata yang tiba-tiba muncul di antara aku dan Desta.
Dihempaskannya badan yang letih itu ke peraduan. Diraihnya telepon genggam dan mulai lah aktivitas rutinnya mengecek semua notifikasi yang terlewat selama jam kerja, tanpa menghiraukan aku yang ada di sebelahnya bergelut dengan pikiran yang carut marut.
“ Give me 1 nice smile,please!” ucapnya seketika. Smile? How can I? Aku tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk mengurai senyum. Dia menghampiri ku dan mengurai senyum yang sengaja di tunjukkannya persis di depan ku pertanda dia ingin aku menirukannya. Terbentuklah sebuah senyum yang dipaksakan karena mencoba membuatnya senang dan tak lagi khawatir. “Senyum dong, yang lebar” desaknya. Aish, aku jadi tambah stress.
Aku teringat perdebatan kami beberapa waktu lalu. Tentang keinginannya dan keinginan ku yang sudah tak lagi sejalan. Tentang bagaimana bentuk perhatian yang ideal yang ingin kami terima satu sama lain. Ada hal yang menurutnya pantas dia lakukan untuk membuat aku merasa lebih bahagia tapi ternyata bukan itu yang aku mau. Banyak hal yang sudah dia lakukan yang belum bisa aku terima dengan baik. Perdebatan yang tak menghasilkan solusi apapun yang di putuskan nya untuk di akhiri cukup sampai hari itu saja. Karena perdebatan itulah aku jadi mengambil beberapa kesimpulan ku sendiri dan berakhir seperti ini. Ya, seperti malam ini, berpikir 100 kali saat akan memulai membicarakan masalah yang sama. Pembatas itu adalah ego. Pembatas itu adalah harga diri yang entah seberapa tinggi dan tebalnya.

Dear my woman, aku ingin menjadikan mu Ratu yang bernaung di tempat yang paling tinggi. Tunggulah dan jangan merisaukan apa-apa.

Dear my lovely, saat aku berdoa pada Tuhan pun, aku sedikit meminta di beri kemudahan. Sebaliknya, aku meminta diberi kekuatan agar aku bisa melalui segala cobaan yang sedang aku terima dari Nya. Begitu pun pada mu. Yang aku butuhkan bukan kamu jadikan aku Ratu yang tidak berguna dalam hidupnya sendiri. Tapi jadikan aku Ratu yang pantas untuk kau dudukkan di tempat tertinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak dengan baik karena kita adalah manusia yang ber-etika