Social Icons

Jumat, 04 November 2011

Mengingat Ibu Menjelang 25 Tahun

First, aku cuma mau mengucapkan Syukur Alhamdulillah atas Rahmat dan Kasih-Nya karena telah mengijinkan aku merasakan hidup selama 25 tahun ini. Aku sadar, memang aku lebih sering masih jauh dari kata sempurna dalam bersyukur, aku tahu itu dan aku selalu berusaha untuk memperbaiki setiap sikap yang selalu mengarah pada ketakaburan dan sikap apatis atas apa yang aku peroleh.
25 tahun yang lalu, aku lahir di Kota Surabaya, dengan sehat dari keturunan seorang muslim, bersuku Jawa dan memiliki keluarga yang utuh. Alhamdulillah ya, sesuatu.
Kalau mengingat 25 tahun yang lalu, aku mengingat beberapa moment yang sampai saat ini masih sangat jelas kuingat. Aku ingat dahulu semasa SD, aku pernah sekali melakukan sesuatu yang membuat orang tua ku marah. Menandatangani sendiri surat permintaan berlangganan majalah B*B*. Saat itu usia ku masih 8 tahunan. Saking senengnya baca cerita Paman Gober dkk, aku dengan enteng nya meniru tanda tangan ibu waktu itu. Karena aku pikir itu hal yang biasa. Lantas menyerahkannya ke guru kelas. Bulan berikutnya, ibu yang kaget menerima tagihan majalah itu, marah karena aku tidak memberi tahunya tentang majalah itu dan menghentikan berlangganan majalah tersebut. Aku kecewa, beruntung aku memiliki beberapa buah majalah yang sejak saat itu aku baca berulang-ulang.
Di bangku SMP, aku membuat masalah lagi. Pernah suatu hari, aku membantah apa yang ibu katakan. aku tak tahu menahu dari mana dan bagaimana, tiba-tiba ibu dengan sangat marahnya melontarkan kata-kata yang sampai saat ini masih bisa aku ingat. Dan yang membuat aku menyesal, karena saat itu ibu tak hanya marah, tapi terlihat sangat jengkel dan marah sambil mengeluarkan air mata. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri aku tidak akan pernah membuat ibu mengeluarkan air matanya lagi karena jengkel atas sikapku. Dan sekarang, aku tidak bisa berpikir bagaimana kelak kalau sampai beliau tahu anak perempuannya memiliki kekasih seorang perempuan.
Inginnya aku katakan, "ibu,aku tetaplah anak ibu yang akan selalu sayang ibu dan kasih sayang itu tak akan pernah berkurang sedikitpun, aku tetap anak ibu, yang selalu membela ibu saat ibu begitu merasa di diskriminasi oleh orang lain, aku tetap anak ibu yang akan selalu menjaga ibu sampai kapan pun, tak peduli secerewet apa ibu saat tua kelak. Orientasi seksual ku saat ini, bukan penyakit yang bisa membuat aku melupakan kasih sayang seorang ibu, dan bukan penyakit yang bisa membuat seorang anak durhaka kepada orang tuanya. Sampai kapanpun dan bagaimana pun aku, aku selalu sayang ibu dan selalu dalam usaha untuk membahagiakan ibu,"
Dalam hal karir aku masih berjuang, karena karir yang dijalani sekarang (bukan tidak bersyukur), masih jauh dari apa yang aku harapkan dan aku yakin aku masih bisa mengejarnya.
Orang pertama yang ingin aku bahagiakan adalah kekasih dan ibu ku dalam porsi yang sama yang selalu menemani aku setiap hari dan dalam suka duka ku. Namun lebih dari itu, ibu adalah malaikat yang selalu aku junjung tinggi dengan segala pencapaian atas diriku karena aku tahu, ibu butuh lebih dari materi. Ibu butuh melihat kerja kerasnya berhasil, menghasilkan seorang anak yang bisa dibanggakan. Dan aku lebih fokus membanggakannya dengan karir karena itu yang bisa aku perjuangkan. Dan semua kebanggaan itu untuk ibu ku seorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan jejak dengan baik karena kita adalah manusia yang ber-etika