Oleh: freya
Kalau ada yang bilang ramadhan itu moment
yang tepat untuk mempererat hubungan keluarga, aku salah satu yang berteriak, “Setuju!”
Aku dan partner adalah seorang muslimah. Kami menyadari bahwa orientasi seksual
kami bukan alasan untuk tidak dekat dengan Tuhan. Justru apapun yang kami dapat
dan rasakan saat ini, kami coba untuk pasrahkan pada-Nya.
Aku memutuskan tinggal bersama dengan
pasangan ku dalam 1 kamar kos 6 tahun yang lalu dan kedua orang tua ku tinggal
tak jauh dari kota
tempat tinggal ku. Sekitar 1 jam udah sampai. Tapi, dengan keyakinan penuh aku
bulatkan tekad untuk tinggal sendiri tepatnya saat mulai kuliah 7 tahun lalu. Kedua
orang tua ku mengetahui partner sebagai teman 1 kampus ku. Tapi sejak awal,
ayah ku tidak begitu menyukai partner. Maklum, mungkin di alam bawah sadar
beliau ada firasat buruk terhadap teman putrinya ini, semacam sindrom homophobia.
Apalagi saat itu partner ku emang berpenampilan sedikit maskulin.
6 tahun sudah kami bersama, dan selama itu pula lah kedua orang tua ku mengenal
partner. Kami berdua selalu berusaha menunjukkan bahwa kebersamaan kami (dalam
konteks pertemanan) bukan hal yang sia-sia apalagi saling merugikan. Kami berusaha
menunjukkan bahwa kemandirian kami adalah keputusan yang tepat dan membuat aku
menjadi pribadi yang lebih dewasa. Yang menjadi
berat adalah saat ayah ku dulu pernah menyatakan ketidaknyamanannya atas
kehadiran partner ku, seolah ketakutan yang tak mampu diungkapkan secara
harfiah dan mendetail saat itu. Sungguh hari hari yang buruk. Saat itu aku
berpikir, tidak ada gunanya berkata atau membela seseorang teman dan meyakinkan
ayahku bahwa aku tak apa-apa berteman dengan nya. Aku baik-baik saja, dan aku
tak akan pernah meninggalkan keluarga ku demi dia.
Aku dan partner mencari cara lain. Kami sibuk kan diri dengan karir. Kami berusaha
menganggap apa yang terjadi sebagai cambuk untuk meraih kemandirian kami dan
mungkin juga bisa di bilang sukses dalam karir kami masing-masing. Tapi aku
juga tak berhenti mengatur momen kapan partner ku bisa berkunjung ke rumah
meskipun sekedar memberi oleh-oleh atau bahkan membantu saat ada acara. Karena aku
yakin, ayah ku tidak pernah membenci orang yang dekat dengan putrinya, beliau
hanya tidak mengenal betul orang yang telah membuat putrinya jatuh cinta.
Sekarang ini, penerimaan ayahku atas kehadiran partner mulai berubah. Bukan
baru-baru ini, tapi melalui proses yang aku sendiri juga tidak bisa menjelaskan
secara detail. Yang pasti, aktifitasku pulang setiap weekend sekarang di
selimuti dengan pertanyaan kabar partner dari ayah. Kalau sesekali membicarakan
partner, banyak hal yang ternyata di perhatikan ayah. Seperti sakit maag nya
partner. Mungkin bagi sebagian orang itu hal sepele. Tapi bagi ku, dan partner ku pastinya, itu hal
luar biasa. Seperti dapat perhatian dari Kepala Negara.
Ramadhan
tahun ini, setiap weekend jadi jadwal utama berbuka puasa di rumah ku. Bersama keluarga
ku dan partner. Yang aku butuhkan bukan lah orang tua ku tahu aku mencintai
partner ku. Tapi, penerimaan mereka terhadap partner ku dengan baik, sama
baiknya dengan penerimaan orang tua partner kepada ku. Hanya sebatas itu. Karena
kedua orang tua partner sudah aku anggap sebagai orang tua ku sendiri. Dan aku
akan merasa sangat bersalah kalau ayah ku memperlakukan partner dengan tidak
baik
Tapi justru sekarang kamu yg memperlakukan aku dengan tidak baik
BalasHapusTapi justru sekarang kamu yg memperlakukan aku dengan tidak baik
BalasHapus