Social Icons

Kamis, 02 Agustus 2012

Full Love of Ramadhan


Oleh: freya
Kalau ada yang bilang ramadhan itu moment yang tepat untuk mempererat hubungan keluarga, aku salah satu yang berteriak, “Setuju!” Aku dan partner adalah seorang muslimah. Kami menyadari bahwa orientasi seksual kami bukan alasan untuk tidak dekat dengan Tuhan. Justru apapun yang kami dapat dan rasakan saat ini, kami coba untuk pasrahkan pada-Nya.
Aku memutuskan tinggal bersama dengan pasangan ku dalam 1 kamar kos 6 tahun yang lalu dan kedua orang tua ku tinggal tak jauh dari kota tempat tinggal ku. Sekitar 1 jam udah sampai. Tapi, dengan keyakinan penuh aku bulatkan tekad untuk tinggal sendiri tepatnya saat mulai kuliah 7 tahun lalu. Kedua orang tua ku mengetahui partner sebagai teman 1 kampus ku. Tapi sejak awal, ayah ku tidak begitu menyukai partner. Maklum, mungkin di alam bawah sadar beliau ada firasat buruk terhadap teman putrinya ini, semacam sindrom homophobia. Apalagi saat itu partner ku emang berpenampilan sedikit maskulin.
6 tahun sudah kami bersama, dan selama itu pula lah kedua orang tua ku mengenal partner. Kami berdua selalu berusaha menunjukkan bahwa kebersamaan kami (dalam konteks pertemanan) bukan hal yang sia-sia apalagi saling merugikan. Kami berusaha menunjukkan bahwa kemandirian kami adalah keputusan yang tepat dan membuat aku menjadi pribadi yang lebih dewasa.  Yang menjadi berat adalah saat ayah ku dulu pernah menyatakan ketidaknyamanannya atas kehadiran partner ku, seolah ketakutan yang tak mampu diungkapkan secara harfiah dan mendetail saat itu. Sungguh hari hari yang buruk. Saat itu aku berpikir, tidak ada gunanya berkata atau membela seseorang teman dan meyakinkan ayahku bahwa aku tak apa-apa berteman dengan nya. Aku baik-baik saja, dan aku tak akan pernah meninggalkan keluarga ku demi dia.
Aku dan partner mencari cara lain. Kami sibuk kan diri dengan karir. Kami berusaha menganggap apa yang terjadi sebagai cambuk untuk meraih kemandirian kami dan mungkin juga bisa di bilang sukses dalam karir kami masing-masing. Tapi aku juga tak berhenti mengatur momen kapan partner ku bisa berkunjung ke rumah meskipun sekedar memberi oleh-oleh atau bahkan membantu saat ada acara. Karena aku yakin, ayah ku tidak pernah membenci orang yang dekat dengan putrinya, beliau hanya tidak mengenal betul orang yang telah membuat putrinya jatuh cinta.
Sekarang ini, penerimaan ayahku atas kehadiran partner mulai berubah. Bukan baru-baru ini, tapi melalui proses yang aku sendiri juga tidak bisa menjelaskan secara detail. Yang pasti, aktifitasku pulang setiap weekend sekarang di selimuti dengan pertanyaan kabar partner dari ayah. Kalau sesekali membicarakan partner, banyak hal yang ternyata di perhatikan ayah. Seperti sakit maag nya partner. Mungkin bagi sebagian orang itu hal sepele. Tapi bagi ku, dan partner ku pastinya, itu hal luar biasa. Seperti dapat perhatian dari Kepala Negara.
Ramadhan tahun ini, setiap weekend jadi jadwal utama berbuka puasa di rumah ku. Bersama keluarga ku dan partner. Yang aku butuhkan bukan lah orang tua ku tahu aku mencintai partner ku. Tapi, penerimaan mereka terhadap partner ku dengan baik, sama baiknya dengan penerimaan orang tua partner kepada ku. Hanya sebatas itu. Karena kedua orang tua partner sudah aku anggap sebagai orang tua ku sendiri. Dan aku akan merasa sangat bersalah kalau ayah ku memperlakukan partner dengan tidak baik

2 komentar:

  1. Tapi justru sekarang kamu yg memperlakukan aku dengan tidak baik

    BalasHapus
  2. Tapi justru sekarang kamu yg memperlakukan aku dengan tidak baik

    BalasHapus

Silahkan meninggalkan jejak dengan baik karena kita adalah manusia yang ber-etika