Ada beberapa hal dalam sebulan terakhir ini yang membuat pikiran kalut dan menerawang entah ke mana. Masa depan. Sesuatu yang belum jelas tapi pasti kita datangi adalah masa depan. Aku dan partner sudah hidup bersama dalam waktu yang cukup untuk memiliki 3 orang anak bila kami adalah pasangan hetero. Entah berapa lama kami bisa mempertahankan kebersamaan kami seperti ini. Tanpa ikatan menikah, tapi kami sudah layaknya pasangan menikah (tinggal bersama, berbagi dalam hal materi dan kasih sayang, bahkan dalam hal berbagi materi untuk keluarga masing-masing dalam hal ini orang tua kami). Saat ini saya sibuk mengurus usaha baru dan partner masih dengan pekerjaan tetapnya. Ada celetukan-celetukan dari tetangga sekitar atau juga saudara yeang kadang kurang tepat jika mengacu pada hubungan kami yang hanya berteman atau bersahabat. Tapi sekilas, kami anggap itu hanya sekedar guyonan semata. Tapi, beberapa bulan ini cukup mengusik. Terus terang aku khawatir. Seringkali aku berpikir betapa mudahnya bila kami punya cukup materi dan bisa tinggal di sebuah apartemen yang memiliki privasi tinggi. Tapi, kenyataan berkata lain. Kami masih bahu-membahu untuk mewujudkan impian kami itu, memiliki rumah. Tapi kembali lagi, saat telah memiliki rumah lalu bagaimana kita hidup?? apa masih baik bila tinggal serumah? bagaimana tanggapan kedua orang tua kami kelak?? bahkan mungkin sekarang pun mereka sudah sering curiga.
Keluarga partner mengenal ku sebagai teman paling dekat putri mereka begitupun keluarga ku. Hufft, kalau untuk tinggal terpisah secara materi justru akan semakin boros dan aku tidak mungkin bisa tinggal serumah dengan orang tua ku. Aku orang yang sangat sulit untuk dimengerti orang lain. Tidak jarang bertengkar dengan ayah ku yang karakternya sama persis dengan ku. Hidup terpisah menjadikan hubungan ku dan ayah ku justru lebih baik dari sebelumnya. Saking kalutnya pikiran ku soal ini, tadi malam aku menangis. Tanpa sadar aku mengatakan aku takut. Partner yang masih terjaga membangunkan ku dan bertanya bingung, "kamu kenapa? kamu mimpi buruk? kamu kenapa?" ada kekhawatiran dalam nada suaranya. Tapi aku hanya bisa diam. Bingung apa yang bisa aku jelaskan padanya.