Terkadang ada hari dimana kita bertemu dengan kenyataan yang tak lagi indah. Sama seperti beberapa hari terakhir ini. Semua bermula dari komitmen ku menerima sebuah pekerjaan. Menjadi pengangguran dalam kurun waktu 3bulan membuat aku sempat down. Tapi,itu tidak menjadikan aku menerima pekerjaan yang tidak aku inginkan. Dan benar,aku mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan.
Aku merasa terlahir kembali. Aku merasa berguna dan membanggakan untuk sesaat. Namun aku melupakan banyak hal. Partner ku mulai tidak mendapat perhatian dari ku. Murid ku pun begitu. Dan yang pasti,orang tua ku. Euforia telah menutup mata ku dan aku seolah tenggelam dalam dunia kerja ku sendiri. Seolah aku sedang hidup sendiri.
Desta,partner ku,mulai memberondong ku dgn protes2 nya. Aku kesulitan mengatur waktu. Aku kehilangan banyak sekali waktu ku berkomunikasi dgn nya. Aku tidak sadar aku telah menyakitinya,org yg selama ini memberi ku support terbaik nya.
Dia minta kita break dan memberikan aku waktu untuk bisa menerima permintaannya. Dalam sekejap aku seperti di jungkir balik. Serasa berjalan tanpa sadar kaki menapak di tanah ato tidak. Kalo pinjem bahasa alay,bagai di samber petir di siang bolong.
Seketika aku merasa gagal. Gagal atas komitmen yang aku bangun dari awal. Aku mulai bertanya apa ini memang hrs trjadi. Tapi ternyata tidak. Aku msh sangat menyayangi nya dan kini giliran ku meyakinkan dia kalau semua msh bs diperbaiki.
Well, tidak ada hubungan yang terlalu mudah ataupun sulit di jalani.semua kembali pada tujuan untuk apa kita membina hubungan itu. Saling memberi dan menerima,mutlak perlu. Dan aku belajar dari semua hal yg terjadi.