Social Icons

Rabu, 02 Januari 2013

More than Investment

Jika dengan membaca judulnya kalian berpikir aku akan membahas reksadana dkk nya, maaf, ini bukan laman yang tepat buat kalian. Aku hanya ingin membahas seorang anak. Iya, anak. Bagi banyak lesbian, memiliki seorang anak menjadi pembahasan yang mungkin bisa dikatakan cukup... menarik. Banyak pendapat yang mengalir dari satu kata itu. Anak.

Lesbian, bagaimanapun, adalah juga seorang wanita yang memiliki sisi keibuan bahkan saat mereka belum pernah secara fisik mengalami kondisi kehamilan. Ada keinginan mencintai, merawat, dan membesarkan seorang anak. Ada juga yang ingin punya anak untuk bisa menemaninya di saat tua nanti. Namun, tidak bisa dipungkiri banyak juga yang tidak menyukai anak kecil karena sedikit, merepotkan.

Ada beberapa teman lesbian yang berpikir begini, memiliki anak itu melelahkan apalagi membiayainya. Mungkin bagi lesbian yang mapan, kondisi ekonomi tidak menjadi masalah, tapi bagi yang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri saja sudah susah payah? Kondisi ekonomi yang baik mutlak perlu bila pasangan (hetero maupun homoseksual), memutuskan untuk memiliki seorang anak. Terlepas dari pandangan ekonomi, ada juga pandangan lain tentang memiliki anak. Ada yang apatis dengan mengatakan, "Ngapain punya anak, kalau sudah besar dan dia memiliki keinginan sendiri, toh dia juga akan meninggalkan kita. Dan pada akhirnya, kita akan berakhir dengan kesendirian juga".

Itu kalimat yang sangat payah yang pernah aku baca. Sama buruknya seperti ungkapan "Untuk apa berdoa jika belum tentu doa kita diterima". Anak mungkin bagi sebagian besar orang, tidak bisa dipungkiri, adalah investasi kita untuk masa depan kita kelak. Tapi sekali lagi, tuhan selalu mengatakan bahwa apa yang diberikan pada kita di dunia ini semata-mata adalah titipan dari-Nya. Anak, bukan semata-mata barang investasi yang kelak bisa kita ambil manfaatnya. Anak bukan semata-mata milik kita yang harus dan tunduk dengan apa yang kita inginkan.

Memiliki anak itu ibadah. Mungkin itu dulu yang harus kita tanamkan dalam benak kita. Apakah saat beribadah kita bisa menuntut Tuhan harus mengabulkan doa kita? Dengan mengubah Mindset kita, apa yang kita jalani mungkin akan terasa lebih indah. Lebih ikhlas.

Memiliki anak itu, bisa kubayangkan adalah anugerah yang paling indah. Kita menyayanginya, mengajarinya bagaimana menyayangi orang lain, bagaimana menjadi orang yang tidak merugikan orang lain, seorang anak yang sekaligus bisa memberikan kita feedback tentang bagaimana menjadi orang tua yang baik, pribadi yang baik, tidak egois, dan banyak hal. Akan sangat menyenangkan mengetahui apa yang dia suka dan tidak suka, apa yang dia pikirkan dan bersedia membaginya bersama kita, mengungkapkan kesedihannya dan berharap kita mendekapnya erat dan memberi dukungan di saat-saat terburuk dalam hidupnya. Melihatnya kelak meraih impian nya, dan mengatakan "I'm proud of you, Mom" atau "Dia tidak pantas untuk mu, Bu" saat kita mengenalkan beberapa calon pasangan kita. 

Seorang anak tidak harus menghabiskan sisa hidupnya dengan mengurus kita. Seorang anak punya banyak cara dan bentuk dalam menyayangi orang tuanya. Kedekatan emosi dan kepercayaan satu sama lain, bukan tidak mungkin justru memberi celah pada mereka untuk selalu ingat dan kembali pada pangkuan orang tuanya.
 


So, a child is more than an investment. Its a blessing if you know.



Menutup tahun 2012 di Jogja

Jogja..........

Akhirnya liburan terlaksana juga. 30 Desember 2012 tepat jam 21.00 bus berpenumpang sekitar 60 orang, berangkat menuju ke Jogja. Kali ini kami bukan liburan berdua saja tapi dengan keluarga partner ku. Iya, keluarga nya Desta. Its a wonderfull Moment. Sebelumnya, ibu (baca: ibu nya partner) pernah mengajakku waktu tahun 2011 lalu. Tapi waktu itu kondisinya tidak mendukung. Tapi, tahun ini, meski begitu banyak ketakutan, akhirnya aku putuskan untuk pergi bersama.


Aku sengaja tidak memberitahu orang tua ku kalau aku akan pergi ke Jogja bersama keluarga Desta. Aku malas diberondong pertanyaan yang pada akhirnya bisa aku tebak dengan pasti tidak akan diberikan ijin untuk pergi. Dan itu sudah terjadi berkali-kali.

Cuaca yang cenderung tidak mendukung, sempat membuat ku takut. Tapi, ibu malah dengan santai menyikapi itu semua. Wow, aku yang lebih muda yang harusnya lebih tuff malah harus ditenangkan oleh ibu. Maklum, beliau juga petualang sejati. Suka banget traveling dalam kondisi ujan sekalipun. Anaknya yang kelihatan macho aja sampe kalah. Two thumb for her. 

Liburan akhir tahun yang sangat berkesan. Tidak bisa ditukar dengan apa pun. Aku tidak tahu kapan bisa meluangkan waktu lagi untuk kesempatan yang sama